JAKARTA — Pemerintah Indonesia menegaskan dua prinsip dasar politik luar negeri, yakni inklusif dan terbuka bagi semua pihak. Sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tahun 2023, Indonesia menyatakan prinsip tersebut sejalan dengan nilai-nilai ASEAN dan menjadi komitmen untuk memastikan Asia Tenggara serta Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan yang inklusif dan terbuka.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Jakarta, Rabu (12/7/2023), setelah ia menyelesaikan tiga pertemuan bilateral dan dua pertemuan trilateral.
Rangkaian pertemuan bilateral dan trilateral
Dalam pertemuan bilateral, Retno bertemu dengan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta, Direktur Komisi Pusat Kebijakan Luar Negeri (CFAC) Partai Komunis China Wang Yi, serta Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Adapun pertemuan trilateral dilakukan dalam dua format. Pertama, Retno bertemu bersama Wang Yi dan Sergey Lavrov. Kedua, Retno menggelar pertemuan trilateral dengan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong.
Penegasan prinsip: dialog terbuka dan kepatuhan pada hukum internasional
Retno menyampaikan bahwa Indonesia tetap berpegang pada asas perdamaian, kerja sama, musyawarah, keseimbangan, inklusivitas, dan kesetaraan. Ia menekankan keterbukaan dialog dengan semua pihak tanpa terkecuali sebagai bagian dari komitmen untuk taat pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional.
Rencana memperluas kerja sama ASEAN dengan IORA dan PIF
Retno menjelaskan, salah satu wujud prinsip keterbukaan adalah rencana Indonesia membawa ASEAN membuka kerja sama yang lebih intensif dengan dua organisasi kawasan lain, yakni Asosiasi Lingkar Samudra Pasifik (Indian Ocean Rim Association/IORA) dan Forum Kepulauan Pasifik (PIF).
Dalam konteks ini, India dan Australia disebut memiliki peran penting karena keduanya merupakan anggota IORA, sementara Australia juga menjadi anggota PIF.
ARF dan EAS disebut contoh forum paling terbuka di Indo-Pasifik
Menurut Retno, Indonesia dan ASEAN terus menunjukkan perilaku inklusif, antara lain melalui Forum Regional ASEAN (ASEAN Regional Forum/ARF) dan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur (East Asia Summit/EAS). Ia menyebut tidak ada forum di Indo-Pasifik yang seterbuka ARF, dengan contoh bahwa Korea Utara menjadi anggota bersama Amerika Serikat, China, dan Rusia.
Pandangan India dan Australia dalam sesi trilateral
Dalam sesi trilateral Indonesia-India-Australia, Menlu India Subrahmanyam Jaishankar menyatakan dukungan terhadap Pandangan Indo-Pasifik ASEAN (ASEAN Outlook on the Indo-Pacific/AOIP). Namun, ia juga menyampaikan bahwa India memiliki definisi tersendiri mengenai Indo-Pasifik, yakni kebebasan untuk terbang maupun berlayar (freedom of navigation).
Menlu Australia Penny Wong menyampaikan hal serupa. Ia menekankan pentingnya Indonesia, Australia, dan India sebagai negara demokrasi untuk menyejajarkan pandangan demi kestabilan kawasan. Untuk Australia, Wong juga memaparkan kerja sama perekonomian dan kelautan yang lebih intensif.
Rusia ingin perkuat kontribusi untuk Sekretariat ASEAN
Dalam pertemuan bilateral dengan Retno, Menlu Rusia Sergey Lavrov menyatakan Rusia ingin memperkuat kerja sama dan kontribusi bagi Sekretariat ASEAN. Ia kembali menekankan pentingnya kerja sama multilateral yang setara untuk memastikan kesejahteraan dan perdamaian bersama. Dalam pertemuan tersebut, Moskwa dan Jakarta juga membahas penanganan krisis pangan dan energi global.
Pengamatan akademisi: penekanan berbeda dalam trilateral
Ketua Jurusan Hubungan Internasional Universitas Binus, Rangga Aditya Elias, menilai meski pernyataan dalam dua pertemuan trilateral terdengar serupa, terdapat perbedaan nada. Menurutnya, dalam format dengan Canberra dan New Delhi, aspek sebagai sesama negara demokrasi lebih digarisbawahi.
Rangga menilai hal itu mencerminkan komitmen untuk mengedepankan dialog dalam menghadapi konflik, sekaligus menunjukkan keyakinan Indonesia pada kemampuan dan sentralitas ASEAN sebagai aktor kawasan.
Ia juga berpendapat India dan Australia cenderung pada prinsip Indo-Pasifik yang diinisiasi Amerika Serikat, dan bahwa kebebasan navigasi pada akhirnya dapat mengarah pada upaya mengisolasi China. Sebaliknya, ia menilai Indonesia dan ASEAN menegaskan semua pihak di Indo-Pasifik harus terlibat aktif tanpa pengucilan.
Fokus pada titik panas global dan pendekatan multilateral
Rangga menyebut Indonesia menaruh perhatian pada situasi global, termasuk konflik Rusia-Ukraina, sengketa di Laut China Selatan, dan Laut China Timur. Ia menilai konflik Rusia-Ukraina menjadi salah satu faktor yang memukul dunia melalui krisis keamanan pangan dan energi.
Menurutnya, Indonesia menginginkan pendekatan multilateralisme yang setara dengan landasan dialog dan kolaborasi, serta menunjukkan sikap tidak berat sebelah, termasuk dengan tetap membuka komunikasi dengan Rusia dan Ukraina.
Dalam isu Myanmar, ia menyatakan Indonesia sebagai Ketua ASEAN telah melakukan 110 pertemuan dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari junta militer hingga kelompok-kelompok etnis.
Catatan soal kebutuhan peta jalan yang terukur
Rangga mengingatkan agar sikap bebas aktif tidak berhenti pada ajakan berdialog, tetapi perlu disertai target perkembangan situasi yang nyata tanpa mengesampingkan aspirasi semua pihak. Ia mempertanyakan apakah sudah ada peta jalan politik luar negeri yang jelas, seraya menilai Indonesia kerap terlihat mengikuti perkembangan arus dibanding menyusun agenda penanganan masalah dengan tujuan dan capaian terukur.
Menurutnya, keberadaan target yang konkret dapat membuat suara Indonesia tidak hanya lantang, tetapi juga berbobot.

