Jakarta — Indonesia resmi menjadi anggota Board of Peace (BoP), sebuah badan internasional yang berfokus pada penyelesaian konflik dan stabilisasi wilayah bergejolak, termasuk di Gaza, Palestina. Keikutsertaan ini dinilai sebagai langkah strategis yang menyelaraskan agenda diplomasi, keamanan, dan akselerasi ekonomi nasional.
Sejumlah pihak menyambut positif keputusan tersebut. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai partisipasi Indonesia di BoP sebagai bukti “diplomasi cerdas” yang memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional. Ia juga menyebut langkah ini sebagai wujud solidaritas terhadap rakyat Palestina dan komitmen Indonesia dalam mendorong proses perdamaian berkelanjutan.
“Langkah Presiden Prabowo adalah wujud nyata politik luar negeri bebas aktif yang sejak awal menjadi prinsip dasar Indonesia. Bergabung dalam Board of Peace menunjukkan bahwa kita konsisten menjalankan amanat konstitusi untuk menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” ujar Dave.
Dave menambahkan, kehadiran Indonesia di BoP dinilai memperkuat posisi diplomasi Indonesia di mata dunia Islam. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya bersifat simbolik, melainkan menunjukkan keberpihakan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Kehadiran Indonesia memperkuat posisi diplomasi kita di mata dunia Islam. Ini bukan sekadar simbol solidaritas, tetapi juga bukti bahwa Indonesia selalu berdiri bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-hak mereka,” katanya.
Dukungan juga datang dari kalangan organisasi kepemudaan. Ketua DPD KNPI Kalimantan Selatan, M. Imam Satria Jati, menyebut keanggotaan Indonesia di BoP sebagai momentum untuk menunjukkan kemampuan diplomasi yang tidak hanya menjaga perdamaian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Imam menilai diplomasi kini bertransformasi menjadi instrumen yang membuka ruang stabilitas politik, yang berdampak pada perdagangan, investasi, dan kerja sama internasional. “Langkah ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan bukti nyata keberhasilan urusan luar negeri yang mengintegrasikan agenda perdamaian dengan mesin pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Menurut Imam, BoP juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai pemecah masalah dalam konflik global sekaligus memperkuat citra sebagai negara yang aktif merespons tantangan keamanan dan ekonomi dunia. Ia menekankan bahwa keamanan tidak semata dipahami sebagai pertahanan fisik, melainkan sebagai hasil dari konstruksi perdamaian yang inklusif melalui kolaborasi antarnegara anggota.
Ia juga menyatakan bahwa suara Indonesia semakin diperhitungkan sebagai aktor konstruktif dalam mendorong tatanan internasional yang lebih adil. Dalam pandangannya, terciptanya stabilitas melalui resolusi konflik dapat membuka ruang aman bagi perdagangan dan investasi yang kemudian bisa dikonversi menjadi kerja sama ekonomi yang lebih konkret.
Dengan bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace, sejumlah pihak menilai Indonesia tidak hanya memperkuat peran dalam menjaga stabilitas global, tetapi juga memperluas peluang kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan teknologi melalui jalur diplomasi.

