BERITA TERKINI
Indonesia Perluas Kerja Sama Pendidikan dan Riset dari Timor-Leste hingga Pasifik Barat

Indonesia Perluas Kerja Sama Pendidikan dan Riset dari Timor-Leste hingga Pasifik Barat

Jakarta, 3 Mei 2026 — Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) pada KBRI Dili dan KBRI Manila memperluas jejaring kerja sama pendidikan, riset, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara hingga Pasifik Barat. Langkah ini dipaparkan dalam forum “Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO”, yang menekankan pendidikan sebagai instrumen diplomasi soft power Indonesia.

Inisiatif tersebut sejalan dengan tren mobilitas pelajar internasional yang terus meningkat. Data UNESCO Institute for Statistics mencatat lebih dari 6 juta mahasiswa menempuh pendidikan lintas negara. Indonesia juga mencatat sekitar 59.000 mahasiswa belajar di luar negeri pada 2024, sementara pada saat yang sama Indonesia disebut semakin aktif menjadi negara tujuan studi, khususnya bagi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik.

Fokus di Timor-Leste: vokasi dan kedokteran

Atdikbud KBRI Dili, Tasrifin Tahara, menyampaikan bahwa hubungan Indonesia–Timor-Leste diarahkan pada program konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat. Di antaranya adalah inisiasi pembukaan kelas khusus di Fakultas Kedokteran bagi mahasiswa Timor-Leste, serta pengembangan program Vocational Sister School yang dikaitkan dengan kebutuhan pembangunan Timor-Leste sebagai negara muda yang baru bergabung di ASEAN.

Indonesia disebut tetap menjadi destinasi favorit bagi pelajar Timor-Leste melalui beragam skema beasiswa, termasuk KNB (Kemitraan Negara Berkembang), bantuan pendidikan dari Indonesian AID, serta beasiswa bebas UKT dan asrama dari perguruan tinggi di Indonesia. Pada 2025, tercatat 350 penerima beasiswa dari Timor-Leste kuliah di Indonesia.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah Universitas Hasanuddin Makassar yang memberikan 180 beasiswa untuk mahasiswa Timor-Leste pada jenjang S1, S2, dan S3. Secara keseluruhan, disebutkan terdapat sekitar 1.800 warga negara Timor-Leste yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia, tersebar di berbagai kampus dari Aceh hingga Papua.

Dalam paparannya, Tasrifin juga menekankan aspek relasi personal dalam kerja sama internasional. “Sering kali kesuksesan kerja sama internasional ditentukan oleh hubungan personal. Diplomasi di meja makan terkadang lebih efektif daripada pertemuan formal,” ujarnya.

Kerja sama dengan Papua Nugini

Selain Timor-Leste, paparan juga menyinggung hubungan Indonesia dengan Papua Nugini (PNG). Kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MOU) kerja sama pendidikan dan budaya pada Mei 1997. Pada Juli 2024, Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri James Marape membahas penguatan kerja sama pendidikan, termasuk penandatanganan Framework Agreement on Development and Technical Cooperation serta Agreement for Training and Capacity Building untuk diplomat karier negara-negara Melanesian Spearhead Group. Indonesia juga disebut membuka sekolah militer bagi perwira muda dan kadet PNG.

Pemerintah Indonesia turut membuka akses beasiswa bagi mahasiswa PNG melalui program KNB dan Indonesian AID Scholarship untuk studi di universitas-universitas Indonesia pada jenjang sarjana, magister, dan doktoral, dengan dukungan biaya hidup, akomodasi, serta kursus bahasa Indonesia.

Palau dan Kepulauan Marshall: pemetaan peluang di Pasifik

Di sisi lain, Atdikbud KBRI Manila, Nina Yulianti, menyampaikan bahwa pihaknya melakukan pemetaan terhadap sistem pendidikan di Palau dan Kepulauan Marshall, wilayah yang termasuk dalam akreditasi KBRI Manila. Menurutnya, pemetaan ini ditujukan untuk menyelaraskan dukungan Indonesia terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas.

Meski belum ada program kerja sama pendidikan bilateral formal antara Indonesia dengan Palau dan Kepulauan Marshall, ketiga negara terhubung melalui kerangka regional Pasifik dan Asia Tenggara. Disebutkan pula Indonesia memiliki kedutaan di Palau yang memfasilitasi pertukaran budaya dan pendidikan.

Dalam konteks historis, Palau disebut memiliki akar migrasi dari Indonesia–Melanesia sejak 1.000–2.000 SM. Ketiga negara juga berbagi keanggotaan dalam forum multilateral seperti Pacific Islands Forum dan Asian Development Bank yang dapat menjadi platform kolaborasi pendidikan regional.

Potensi kerja sama yang diidentifikasi mencakup pemberian beasiswa bagi mahasiswa Pasifik di universitas Indonesia, program pertukaran budaya berbasis warisan bersama, serta kolaborasi pelestarian bahasa Austronesia. Pemerintah Indonesia juga menawarkan program The Indonesian AID Scholarship (TIAS) bagi generasi muda di Palau dan Kepulauan Marshall untuk menempuh pendidikan di Indonesia.

Fokus kerja sama ini diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dengan mempertimbangkan tantangan geografis negara-negara kepulauan di Pasifik Barat. Melalui identifikasi aktor-aktor kunci pendidikan, Indonesia menyatakan komitmen untuk menjadi mitra pembangunan di kawasan tersebut.

Sinergi antara KBRI Dili dan KBRI Manila ini dipaparkan sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk memperkuat diplomasi pendidikan dan memperluas kerja sama pengetahuan serta fasilitas pendidikan dengan negara-negara sahabat di kawasan sekitar.