Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, sebagai bagian dari langkah pemerintah memperkuat diplomasi regional di tengah dinamika global yang kian kompleks. Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut kembali menegaskan peran Jakarta sebagai salah satu penggerak stabilitas dan kerja sama di Asia Tenggara.
Presiden Prabowo tiba di Terminal General Aviation Bandara Internasional Mactan Cebu pada Kamis siang waktu setempat. Kedatangannya disambut sejumlah pejabat tinggi Filipina, termasuk Penasihat Keamanan Nasional Filipina Eduardo Oban, dengan prosesi pasukan kehormatan serta pertunjukan budaya tradisional.
Pemerintah menilai partisipasi Indonesia dalam KTT ASEAN 2026 tidak sekadar memenuhi agenda rutin, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperkuat posisi strategis Indonesia di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global. Forum ini menjadi ruang bagi Indonesia untuk mendorong penguatan kerja sama kawasan, terutama pada sektor energi, pangan, perdagangan, dan transformasi ekonomi digital.
Salah satu sorotan dalam kunjungan tersebut adalah penggunaan kendaraan taktis ringan Maung sebagai kendaraan resmi Presiden selama agenda internasional di Filipina. Kendaraan produksi industri pertahanan nasional itu dipandang sebagai simbol diplomasi yang menekankan kemandirian teknologi dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, penggunaan Maung dalam agenda kenegaraan di luar negeri bukan semata soal transportasi. Pemerintah ingin menunjukkan kepada komunitas internasional bahwa industri strategis nasional Indonesia mampu berkembang dan tampil percaya diri di panggung global.
Teddy menyebut Maung telah dikembangkan sejak Prabowo menjabat Menteri Pertahanan dan produksinya di PT Pindad terus meningkat. Kendaraan tersebut juga telah digunakan dalam berbagai kebutuhan nasional, termasuk untuk mendukung operasional strategis di dalam negeri.
Di sisi substansi pertemuan, agenda utama KTT ASEAN tahun ini menyoroti dampak konflik global terhadap Asia Tenggara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi menjadi perhatian utama para pemimpin ASEAN.
Delegasi Indonesia yang dipimpin Airlangga juga terlibat dalam pertemuan ASEAN Economic Community Council (AECC). Dalam forum itu, Indonesia mendorong penguatan integrasi ekonomi kawasan, penguatan rantai pasok regional, serta peningkatan daya saing ASEAN agar tetap menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Pemerintah memandang penguatan kerja sama ekonomi di ASEAN penting untuk menjaga ketahanan kawasan di tengah ketidakpastian global. Karena itu, Indonesia mendorong reformasi struktural yang berbasis keberlanjutan, digitalisasi, dan penguatan sektor produktif regional.
Selain isu ekonomi, pembahasan juga mencakup penyusunan Visi ASEAN 2045 yang diarahkan untuk membangun kawasan yang tangguh, inovatif, dinamis, dan berorientasi pada masyarakat. Indonesia menyatakan dukungan terhadap visi tersebut karena dinilai sejalan dengan upaya memperkuat posisi ASEAN sebagai kawasan yang inklusif dan berdaya saing.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan Presiden Prabowo memberi perhatian besar pada isu energi dan pangan dalam forum ASEAN kali ini. Pemerintah menilai kedua sektor tersebut menjadi fondasi stabilitas kawasan di tengah meningkatnya tekanan global.
Menurut Bahlil, salah satu komoditas energi strategis yang menjadi perhatian adalah nikel karena perannya dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik. Indonesia disebut tengah mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan Filipina terkait pasokan nikel untuk mendukung kebutuhan industri smelter nasional. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat rantai pasok energi regional sekaligus memperkuat posisi ASEAN dalam pengembangan industri energi masa depan.
Dalam berbagai forum selama KTT ASEAN, Presiden Prabowo menekankan pentingnya solidaritas kawasan untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks. Indonesia menilai kerja sama regional perlu menghasilkan solusi konkret yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat ASEAN.
Pemerintah menyatakan pendekatan diplomasi aktif dijalankan melalui dialog, kolaborasi, dan pembangunan bersama. Melalui partisipasi di KTT ASEAN Filipina 2026, Indonesia menegaskan komitmen untuk memperkuat diplomasi regional, mendorong kerja sama strategis antarnegara anggota, serta mendukung masa depan ASEAN yang lebih tangguh dan berkelanjutan.