Jakarta—Indonesia menargetkan peningkatan perdagangan dengan Korea Selatan hingga 60 persen pada masa mendatang. Penerapan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) serta status kemitraan strategis menjadi modal utama untuk mendorong capaian tersebut.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, hubungan Jakarta dan Seoul mencatat babak baru dengan mulai diterapkannya IK-CEPA. Hal itu disampaikan dalam perayaan 50 tahun hubungan Indonesia-Korea Selatan di Jakarta, Kamis (26/1/2023).
Retno menyebut kerja sama bilateral terus berkembang dan diwujudkan dalam kolaborasi konkret yang bermanfaat bagi masyarakat kedua negara, termasuk di bidang keamanan, investasi maritim, pariwisata, budaya, serta pertukaran antarmasyarakat.
Perdagangan meningkat, Indonesia disebut mitra strategis khusus
Dalam acara tersebut hadir antara lain Duta Besar RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistiyanto dan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Lee Sang-deok. Lee menyatakan Seoul memandang Jakarta sebagai salah satu mitra dengan perkembangan hubungan yang pesat.
Menurut Lee, volume perdagangan kedua negara meningkat dari 185 juta dollar Amerika Serikat (AS) pada 1973 menjadi 30 miliar dollar AS pada 2022. Ia juga mengatakan Indonesia merupakan satu-satunya negara di antara anggota ASEAN yang memiliki kemitraan strategis khusus dengan Korea Selatan.
Lee menilai penguatan kerja sama Indonesia-Korea Selatan menjadi keharusan karena kedua negara memiliki kesamaan pandangan terhadap berbagai persoalan kawasan dan global. Selain itu, dinamika geopolitik disebut menjadi alasan kemitraan perlu terus diperkuat.
Ia menambahkan, dalam pandangan Korea Selatan mengenai Indo-Pasifik, Indonesia didefinisikan sebagai mitra kerja sama utama. Lee juga menyampaikan harapan Korea Selatan terhadap kepemimpinan Indonesia yang memperkenalkan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik.
Surplus dagang dan tantangan akses visa
Dubes RI di Seoul Gandi Sulistiyanto menyatakan hubungan Indonesia-Korea Selatan membaik dari tahun ke tahun. Ia juga menyebut pada tahun sebelumnya Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan Korea Selatan, setelah sebelumnya lebih sering mengalami defisit.
Meski demikian, Gandi menyoroti sejumlah ganjalan, salah satunya terkait kemudahan kunjungan warga Indonesia ke Korea Selatan. Saat ini, warga Korea Selatan dapat memperoleh visa kunjungan saat tiba di Indonesia. Sebaliknya, warga negara Indonesia harus mengurus visa terlebih dahulu di Jakarta sebelum berangkat ke Korea Selatan.
Gandi membandingkan dengan Jepang, yang dinilai lebih banyak dikunjungi warga Indonesia karena pemegang paspor elektronik Indonesia mendapatkan pembebasan visa. Ia berharap, seiring peringatan 50 tahun hubungan bilateral, kemudahan visa bagi warga Indonesia ke Korea Selatan dapat ditingkatkan agar arus kunjungan lebih seimbang.
Indonesia belum menjadi mitra dagang terbesar Korea Selatan di kawasan
Gandi juga menyoroti posisi Indonesia dalam perdagangan Korea Selatan di Asia Tenggara. Ia menyebut nilai perdagangan Indonesia-Korea Selatan masih di bawah volume perdagangan Korea Selatan dengan Malaysia, Vietnam, dan Singapura.
Selain itu, Korea Selatan disebut belum masuk lima besar mitra dagang Indonesia dan saat ini berada di peringkat enam. Kondisi tersebut terjadi meski Indonesia merupakan perekonomian terbesar di kawasan.
IK-CEPA dan hambatan produk pertanian
Dengan pengesahan IK-CEPA, kedua negara berharap perdagangan dapat meningkat hingga 60 persen per tahun pada masa mendatang. Dalam kesepakatan itu, disepakati penghapusan tarif untuk hampir semua jenis komoditas perdagangan kedua negara.
Namun, Gandi menyatakan produk pertanian Indonesia masih kesulitan menembus pasar Korea Selatan. Ia mencontohkan buah-buahan tropis seperti salak, pisang, rambutan, dan durian yang di Korea Selatan masih diimpor dari negara selain Indonesia.
Dorongan impor barang modal dan kerja sama keamanan kawasan
KBRI Seoul juga mendorong peningkatan impor barang modal dari Korea Selatan. Menurut Gandi, meski langkah itu berpeluang membuat neraca perdagangan Indonesia terhadap Korea Selatan kembali defisit, peningkatan belanja barang modal dinilai positif karena dapat menjadi sumber penggerak perekonomian Indonesia. Di sisi lain, volume perdagangan Indonesia-Korea Selatan juga berpotensi meningkat.
Di luar aspek ekonomi, Indonesia memandang Korea Selatan memiliki peran penting dalam mewujudkan kedamaian dan keamanan kawasan. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Abdul Kadir Jailani mengatakan Indonesia dan Korea Selatan sama-sama menekankan pentingnya keamanan dan stabilitas kawasan sebagaimana tercermin dalam ASEAN Outlook on Indo-Pacific dan strategi Korea Selatan untuk Indo-Pasifik yang bebas, damai, dan sejahtera.
- Target peningkatan perdagangan: hingga 60 persen pada masa mendatang dengan penerapan IK-CEPA.
- Perdagangan 2022: mencapai 30 miliar dollar AS, meningkat dari 185 juta dollar AS pada 1973.
- Tantangan utama: kemudahan visa bagi WNI dan akses produk pertanian Indonesia ke pasar Korea Selatan.
- Posisi di kawasan: nilai perdagangan Indonesia-Korea Selatan masih di bawah Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

