Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemberian insentif untuk pengembangan infrastruktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) serta energi terbarukan atau energi bersih dapat menjadi strategi untuk memperkuat perekonomian Indonesia.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di level 5 persen. Menurutnya, capaian tersebut dipengaruhi oleh tantangan struktural serta dampak perlambatan ekonomi global.
Meski demikian, Esther memperkirakan stabilitas makroekonomi masih terjaga, dengan inflasi sekitar 3 persen dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Ia juga menilai sektor perbankan masih mampu menjadi penopang utama perekonomian melalui fungsi intermediasi dan penyaluran kredit.
Dalam menghadapi tekanan global, Esther mendorong pemerintah memperluas kebijakan insentif, termasuk untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik. Ia menilai pembangunan infrastruktur EV dapat memperkuat kepercayaan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik sekaligus mendorong investasi baru di sektor industri hijau dan energi bersih.
“Jika ingin memberikan insentif lebih besar untuk generate renewable energy sehingga penyediaan energi terbarukan lebih banyak di Indonesia. Kemudian beri insentif untuk pembangunan infrastruktur mobil listrik sehingga orang beli tidak takut mogok atau yakin bahwa mobil listrik menggunakan energi yang murah,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
Di sisi lain, Esther menekankan sektor perbankan tetap perlu menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas tetap terjaga. Namun, ia mengingatkan adanya risiko guncangan ekonomi global yang dapat memengaruhi sektor informal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia juga menilai perlambatan ekonomi dunia berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia akibat turunnya permintaan global serta harga komoditas unggulan seperti batu bara dan crude palm oil (CPO).
Menurut Esther, kebijakan insentif elektrifikasi kendaraan atau EV merupakan investasi fiskal jangka panjang yang bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Ia menyebut kebijakan ini tidak hanya mempercepat transisi energi, tetapi juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan fiskal negara.