Ketidakpastian ekonomi global sepanjang paruh pertama 2025 dinilai kian menekan kinerja perekonomian banyak negara. Berbagai tensi geopolitik—mulai dari perang dagang, konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda, hingga perang di Timur Tengah—menciptakan gangguan berlapis yang berdampak pada aktivitas perdagangan dan harga barang.
Dampak tersebut terutama terasa melalui kenaikan harga akibat terganggunya rantai nilai global (global value chain/GVC). Ketika pasokan tersendat dan arus barang lintas negara tidak lancar, biaya produksi dan distribusi dapat meningkat, yang kemudian menekan daya beli serta pertumbuhan ekonomi.
Salah satu faktor yang disebut memperparah situasi adalah pengenaan tarif atas barang impor ke Amerika Serikat (AS) oleh Presiden Donald Trump. Kebijakan tarif ini dinilai berkontribusi terhadap huru-hara ekonomi dunia karena mengganggu arus perdagangan global dan menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan sejumlah ekonomi maju akan mengalami pertumbuhan lambat, bahkan berpotensi negatif, seiring dampak penerapan tarif yang menghambat perdagangan. IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 2,8% dari 3,3% pada proyeksi Januari 2025.
Gangguan ekonomi tidak hanya terjadi di negara maju. IMF menilai dampaknya dapat lebih besar bagi negara-negara yang sebelumnya belum mencapai stabilitas, terutama yang menghadapi konflik berkepanjangan dan ketidakpastian institusi pemerintahan. Kondisi tersebut dapat memicu ketidakstabilan ekonomi dan memperdalam risiko kontraksi.
Dalam data IMF, terdapat 12 negara yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi terburuk pada 2025. Namun, daftar nama negara-negara tersebut tidak dicantumkan dalam materi referensi yang tersedia.

