Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dalam laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru. IMF menilai tekanan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, serta lonjakan harga energi menjadi faktor utama yang membayangi pemulihan ekonomi dunia.
Dalam laporan yang dirilis Selasa (14/4/2026), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 sebesar 3,1 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya dan melambat dari realisasi pertumbuhan tahun sebelumnya yang tercatat 3,4 persen.
IMF mencatat, kondisi ekonomi global yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda stabilisasi kini kembali menghadapi tekanan baru. Konflik geopolitik dinilai mengganggu momentum pemulihan yang sempat terbentuk setelah pandemi Covid-19 dan proses normalisasi kebijakan moneter global.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut konflik yang terjadi telah menghentikan momentum ekonomi global dan meningkatkan tekanan inflasi secara signifikan.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah lonjakan harga energi, terutama minyak dan gas. Gangguan terhadap jalur distribusi energi utama dunia, termasuk Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga yang kemudian merambat ke inflasi global.
IMF memperkirakan inflasi global akan meningkat menjadi sekitar 4,4 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya. Kenaikan harga energi ini dinilai tidak hanya berdampak pada negara maju, tetapi juga membebani negara berkembang, khususnya yang bergantung pada impor energi.
Menurut IMF, negara-negara tersebut menghadapi tekanan ganda berupa lonjakan biaya impor dan pelemahan mata uang. Dalam skenario dasar, IMF mengasumsikan konflik akan mereda dalam jangka pendek. Namun, jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya terhadap ekonomi global diperkirakan akan jauh lebih dalam.
IMF juga memperingatkan bahwa dalam skenario yang lebih buruk, pertumbuhan ekonomi global dapat turun hingga sekitar 2 persen, level yang biasanya terkait dengan kondisi resesi global.
Laporan WEO turut menegaskan bahwa dampak perlambatan ekonomi tidak merata di seluruh dunia.