Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa stabilitas keuangan global berada dalam posisi rentan di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda. Peringatan itu disampaikan dalam Laporan Stabilitas Keuangan Global yang dirilis pada Selasa (14/4/2026) waktu setempat.
IMF menilai ketegangan geopolitik tersebut tidak hanya berkaitan dengan isu keamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu fondasi ekonomi dunia. Dalam laporannya, IMF menyebut sistem keuangan global menghadapi perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah, potensi tekanan inflasi, meningkatnya risiko pengetatan lebih lanjut dalam kondisi keuangan, serta sejumlah saluran yang dapat mendorong gejolak pasar berkembang menjadi ketidakstabilan keuangan.
IMF juga menyoroti risiko pengetatan kondisi keuangan yang dapat terjadi secara mendadak apabila konflik berlangsung berkepanjangan. Salah satu perhatian utama adalah peningkatan volatilitas di pasar obligasi, yang dipicu tingginya rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di berbagai negara.
Selain itu, negara-negara berkembang disebut menghadapi ancaman tekanan terhadap mata uang dan arus keluar modal dalam skala besar. Risiko ini dikaitkan dengan berakhirnya praktik carry trade serta memburuknya neraca perdagangan di sejumlah negara.
Situasi tersebut dinilai dapat semakin berat apabila terjadi guncangan tiba-tiba yang memicu penjualan paksa oleh lembaga keuangan non-bank. IMF mengingatkan bahwa risiko dari sektor ini dapat berdampak luas karena keterkaitannya yang kian kuat dengan sistem perbankan konvensional.
Di sisi lain, sektor kredit swasta mulai menunjukkan tanda peningkatan gagal bayar, terutama pada peminjam dengan utang tinggi yang juga rentan terhadap disrupsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI). IMF juga memperkirakan investasi di bidang AI yang tengah tumbuh pesat dapat melambat signifikan apabila ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda.
Menanggapi berbagai risiko tersebut, IMF mendesak para pembuat kebijakan untuk mengambil langkah nyata. Dari sisi moneter, IMF menekankan pentingnya kebijakan yang menjaga stabilitas harga dan disesuaikan dengan dampak inflasi aktual terhadap ekspektasi inflasi, dengan tetap mengandalkan data.
Dari sisi fiskal, pemerintah diminta beralih ke pengaturan yang lebih ketat untuk menjaga jalur utang publik tetap stabil, sambil tetap melindungi kelompok masyarakat rentan dari guncangan ekonomi.
IMF juga menekankan urgensi menutup kesenjangan data dan memperkuat pengawasan lintas negara. Laporan itu menyoroti bahwa lembaga keuangan nonbank kini semakin banyak menggunakan utang atau leverage dan memiliki keterkaitan yang semakin kuat dengan perbankan, sehingga potensi efek domino dinilai dapat membesar di masa depan.