BERITA TERKINI
IMF, Bank Dunia, ADB, dan Sri Mulyani Soroti Risiko Resesi Global 2023

IMF, Bank Dunia, ADB, dan Sri Mulyani Soroti Risiko Resesi Global 2023

Sejumlah lembaga internasional menilai risiko resesi global pada 2023 kian menguat, seiring perlambatan ekonomi yang terjadi di berbagai negara. Perlambatan disebut terjadi di negara-negara maju, termasuk China, Amerika Serikat, dan Inggris, di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi yang dinilai terjal dan dipengaruhi dampak perang Rusia-Ukraina.

Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Asian Development Bank (ADB) sebelumnya telah berulang kali mengingatkan potensi resesi pada 2023. Peringatan itu juga disoroti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam paparan APBN KITA Agustus 2022 pada Senin (26/9/2022). Sri Mulyani memperkirakan dunia berpeluang bersama-sama memasuki resesi pada 2023.

Menurut Sri Mulyani, salah satu pemicu utama adalah inflasi tinggi akibat lonjakan harga pangan dan energi di sejumlah negara, khususnya Eropa dan Amerika Serikat. Inflasi tersebut mendorong bank sentral negara maju menaikkan suku bunga dan mengetatkan likuiditas, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi global, termasuk negara berkembang.

“Kalau bank sentral di seluruh dunia meningkatkan suku bunga cukup ekstrem dan bersama-sama, dunia mengalami resesi di 2023,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KITA Agustus, Senin (26/9/2022). Ia menambahkan, “Kenaikan suku bunga bank sentral di negara maju cukup cepat dan ekstrem dan memukul pertumbuhan negara-negara tersebut.”

Dalam paparannya, Sri Mulyani menyebut suku bunga acuan di Inggris tercatat 2,25% setelah naik 200 basis points (bps), sementara Amerika Serikat telah mencapai 3,25% setelah naik 300 bps. Ia juga menyampaikan perkiraan bahwa AS berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 bps dan Eropa sebesar 125 bps. “Ini kenaikan ekstrem, selama ini Eropa sangat rendah dari sisi policy rate-nya,” ujarnya.

Sri Mulyani menilai pada kuartal II-2022 pertumbuhan ekonomi China, AS, Jerman, dan Inggris telah mengalami koreksi. Ia memandang kondisi tersebut berpotensi berlanjut pada kuartal III hingga akhir tahun, sehingga prediksi pertumbuhan untuk tahun berjalan dan tahun depan, termasuk kemungkinan resesi, mulai menguat.

Sebelumnya, Bank Dunia menyatakan dunia berisiko menghadapi resesi global pada 2023. Bank Dunia menilai perlambatan ekonomi global saat ini merupakan yang paling tajam setelah pemulihan pascaresesi sejak 1970. Selain itu, kepercayaan konsumen global disebut menurun lebih tajam dibandingkan resesi global sebelumnya.

Bank Dunia menyoroti perlambatan tajam pada tiga ekonomi besar dunia, yakni Amerika Serikat, China, dan kawasan Eropa. “Dalam keadaan seperti itu, bahkan pukulan moderat terhadap ekonomi global selama tahun depan dapat membawanya ke dalam resesi,” tulis Bank Dunia dalam laporannya yang dikutip Senin (19/9/2022). Bank Dunia juga menilai kondisi ini memerlukan kebijakan countercyclical untuk melindungi aktivitas masyarakat dan perekonomian.

Dari sisi IMF, Direktur Pelaksana Kristalina Georgieva menyebut pelemahan ekonomi global berpeluang besar terjadi. Ia menyampaikan prospek ekonomi global telah “gelap secara signifikan” sejak April, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 3,6% untuk 2022.

IMF mengaitkan ancaman resesi dengan sejumlah faktor yang terjadi hampir bersamaan, antara lain inflasi yang menyebar lebih luas, kenaikan suku bunga yang lebih substansial, perlambatan pertumbuhan ekonomi China, serta meningkatnya sanksi terkait perang Rusia di Ukraina.

ADB juga mencatat dampak perlambatan tersebut terhadap Asia. Lembaga itu menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia dan Pasifik di tengah tantangan yang mencakup pengetatan moneter, dampak invasi Rusia ke Ukraina yang berlarut, serta lockdown COVID-19 berulang di China.

ADB memperkirakan perekonomian kawasan Asia dan Pasifik tumbuh 4,3% pada 2022, turun dari proyeksi April sebesar 5,2%. Proyeksi pertumbuhan 2023 juga diturunkan menjadi 4,9% dari 5,3%, sementara perkiraan inflasi kawasan dinaikkan.

Namun, ADB menyebut di luar China, negara berkembang lainnya di Asia diproyeksikan tumbuh 5,3% pada 2022 dan 2023. Proyeksi tersebut didukung pertumbuhan di Asia Selatan dan Asia Tenggara yang masing-masing diperkirakan tumbuh 6,5% serta sekitar 5,1–5% pada 2022 dan 2023.

Di sisi harga, ADB mencatat inflasi di negara berkembang Asia meningkat, dengan rata-rata inflasi naik menjadi 5,3% pada Juli dari 3,0% pada Januari. Meski demikian, ADB menilai tekanan harga di negara berkembang Asia masih lebih moderat dibandingkan negara maju, termasuk Amerika Serikat dan kawasan euro.

ADB mengingatkan inflasi yang terus meningkat telah mendorong suku bunga bank sentral regional 2,5 poin persentase di atas rata-rata prapandemi 2015–2019, yang menunjukkan penyimpangan yang lebih besar dari dinamika harga yang lebih normal.