BERITA TERKINI
IHSG Terkoreksi dari Rekor 9.134,7, BEI Paparkan Tekanan Global dan Domestik

IHSG Terkoreksi dari Rekor 9.134,7, BEI Paparkan Tekanan Global dan Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada awal 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut pelemahan pasar saham dalam hampir tiga bulan pertama tahun ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari ketegangan geopolitik hingga perubahan sentimen lembaga keuangan internasional terhadap Indonesia.

Unit Kajian dan Analisis Ekonomi Divisi Riset BEI menilai dinamika global sepanjang periode tersebut membuat investor cenderung mengambil sikap menunggu. Dalam pemaparan edukasi wartawan secara daring, analis Divisi Riset BEI, Anita Kezia, mengatakan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong volatilitas pasar.

Menurut Anita, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Dampaknya tidak hanya terasa pada pasar saham, tetapi juga memicu lonjakan harga komoditas energi, terutama minyak dunia. Kenaikan harga minyak kemudian menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk sejumlah negara Asia.

Selain faktor geopolitik, pasar global juga masih dibayangi ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan China yang kerap disebut sebagai Trade War 2.0. Meski sebagian kebijakan tarif sempat ditunda, ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dinilai tetap memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketidakpastian turut datang dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon pengganti Ketua The Fed Jerome Powell. Warsh dikenal berpandangan lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat untuk mengendalikan inflasi. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat investor global lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Data BEI menunjukkan IHSG sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa di 9.134,7 pada 20 Januari 2026. Setelah itu, indeks turun bertahap hingga berada di kisaran 7.585 pada 6 Maret 2026. Anita menjelaskan koreksi tersebut tidak terjadi tiba-tiba, melainkan dipicu rangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Salah satu pemicu tekanan pasar, menurut Anita, muncul setelah pengumuman MSCI terkait penundaan rebalancing indeks saham Indonesia. Penundaan itu memunculkan sentimen negatif karena berkaitan dengan isu transparansi kepemilikan saham. Situasi tersebut diikuti respons sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, UBS, dan Nomura yang menurunkan rekomendasi investasi terhadap saham Indonesia.

Tekanan juga diperkuat oleh perubahan outlook peringkat utang Indonesia. Moody’s dan Fitch Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski peringkat utang Indonesia masih berada pada kategori investment grade, perubahan outlook tersebut memunculkan kekhawatiran investor terkait risiko fiskal dan potensi peningkatan biaya utang pemerintah ke depan.

Ketidakpastian meningkat setelah memanasnya konflik militer di Timur Tengah pada akhir Februari. Serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sempat menembus kisaran 113–114 dolar AS per barel, disertai ancaman penutupan Selat Hormuz. Jalur ini disebut menjadi rute penting bagi sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga gangguan terhadapnya berisiko memicu krisis energi dan lonjakan harga minyak yang berdampak luas pada ekonomi dunia.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Jika harga energi meningkat tajam, beban subsidi dan impor energi berpotensi menekan anggaran negara.

Di tengah koreksi IHSG, BEI mencatat aktivitas perdagangan justru meningkat. Nilai transaksi harian rata-rata tercatat sekitar Rp29 triliun, naik sekitar 65% dibandingkan tahun sebelumnya. Frekuensi perdagangan melonjak sekitar 84% menjadi sekitar 3 juta transaksi per hari, sementara volume perdagangan saham meningkat sekitar 76% hingga mencapai 53,3 miliar lembar saham. Data ini menunjukkan aktivitas pasar modal tetap relatif aktif meski indeks berada dalam tekanan.

Dari sisi investor, pasar saham domestik masih didominasi investor ritel dan jumlah investor pasar modal terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, investor asing masih mencatat aksi jual bersih sepanjang 2026. Hingga awal Maret, net sell investor asing tercatat sekitar Rp9,7 triliun, terutama setelah pengumuman MSCI pada akhir Januari serta meningkatnya ketegangan geopolitik pada akhir Februari.

BEI juga mencatat sektor berbasis komoditas relatif lebih bertahan dibandingkan sektor lain. Sektor bahan baku (basic materials) dinilai lebih tahan tekanan karena didukung harga komoditas global. Saham-saham terkait komoditas seperti nikel, batu bara, dan emas disebut masih menarik bagi investor asing di tengah ketidakpastian global.

Meski berbagai tantangan membayangi, BEI menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, ditopang stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, serta reformasi pasar modal. Regulator juga mendorong langkah-langkah untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas, termasuk rencana menaikkan batas minimum free float saham menjadi 15% serta memperkuat transparansi kepemilikan saham melalui pengungkapan ultimate beneficial ownership.