Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. IHSG turun 0,68% atau 46,720 poin ke level 6.858,89.
Sepanjang sesi, IHSG bergerak di zona merah. Indeks dibuka di level 6.946,84 dan sempat mencapai level tertinggi 6.977,28. Adapun level terendah perdagangan hari itu berada di posisi 6.762,87.
Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan sentimen global dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dunia. Aktivitas perdagangan tercatat ramai dengan volume transaksi mencapai 32,523 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp15,827 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2.515.228 kali.
Dari pergerakan saham, sebanyak 207 saham menguat, 463 saham melemah, dan 151 saham stagnan. Komposisi tersebut mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham domestik.
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi faktor eksternal, terutama meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Dalam negeri, indeks IHSG melemah. Sentimen tekanan jual seiring dari faktor ekternal dari sisi konflik di Timur Tengah mendorong tekanan nilai rupiah yang semakin melemah dari dolar AS,” kata mereka, Selasa (12/5/2026).
Menurut Pilarmas, penguatan dolar AS juga dipicu kebijakan suku bunga The Fed serta ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya risiko global.
Situasi tersebut memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pilarmas menilai dominasi penguatan dolar AS di pasar global membuat peluang apresiasi mata uang emerging market menjadi lebih terbatas.
“Ini memberikan tekanan besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Karena penguatan dolar yang dominan di pasar global,” ujar Tim Pilarmas.
Di sisi lain, pelaku pasar juga cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman rebalancing MSCI Indonesia. Pengumuman ini dinilai penting karena menjadi salah satu acuan investor global dalam menilai pasar modal Indonesia.