Hantavirus menjadi sorotan pada 2026 meski wabahnya dinilai masih terkendali. Namun, pasar tetap memantau ketat perkembangan kasus karena kondisi ekonomi global saat ini dianggap lebih rapuh dibanding awal 2020, ketika COVID-19 mulai mengguncang dunia.
Per 8 Mei 2026, wabah hantavirus di kapal MV Hondius telah menimbulkan delapan kasus yang dilaporkan, termasuk tiga kematian—dua terkonfirmasi dan satu kemungkinan terjangkit, menurut World Health Organization (WHO). Pada hari yang sama, BBC melaporkan Spanyol mulai mengevakuasi penumpang kapal pesiar yang berlabuh di dekat Tenerife, Kepulauan Canary.
Di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut hantavirus pulmonary syndrome memiliki tingkat kematian hampir 38% di antara pasien yang mengalami gejala pernapasan. Kematian terbaru memicu kekhawatiran, meski WHO menyatakan tidak memprediksi wabah ini berkembang menjadi epidemi besar seperti COVID-19.
Kewaspadaan investor juga dipengaruhi situasi makro yang lebih kompleks. Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung telah mengguncang pasar global. International Monetary Fund (IMF) pada April memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1% dengan alasan konflik dan penutupan Selat Hormuz.
Harga minyak Brent berada di sekitar US$100 per barel setelah sempat melonjak melampaui US$116 selama konflik. Gangguan di wilayah Hormuz turut memunculkan kembali kekhawatiran terkait pasokan pupuk dan potensi kelangkaan pangan di negara-negara yang bergantung pada impor. Di Amerika Serikat, inflasi utama tercatat naik menjadi 3,3% pada Maret 2026, jauh di atas 2,3% pada Februari 2020 sebelum WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi pada Maret tahun itu.
Di pasar keuangan, Bitcoin dan saham AS sama-sama menunjukkan pemulihan kuat setelah sempat melemah. Bitcoin tercatat naik sekitar 22% sejak 28 Februari. Indeks S&P 500 juga memantul dari pelemahan pada Maret dan ditutup pada rekor tertinggi baru di level 7.365 pada Jumat.
Sejauh ini, konflik AS-Iran disebut justru memberi dorongan bagi aset berisiko. Namun, ancaman krisis kesehatan yang lebih luas dinilai dapat menghentikan laju tersebut. Pasar masih mengingat gejolak pada fase awal COVID-19: S&P 500 sempat anjlok 34% dalam 35 hari dari 3.386 pada Februari 2020 menjadi 2.237 pada 23 Maret. Bitcoin pun mengalami koreksi tajam; dalam dua hari setelah WHO mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi, nilainya merosot lebih dari 50%.
Dengan latar ekonomi yang dinilai lebih rapuh, munculnya tanda-tanda wabah memburuk berpotensi memicu pergerakan “risk-off” secara luas di saham maupun aset kripto. Kekhawatiran likuiditas, kepanikan, dan arus keluar dari aset berisiko disebut dapat membuat pergerakan harga lebih volatil.
Pasar minyak juga menjadi titik perhatian. Pada krisis COVID-19 di 2020, permintaan yang anjlok membuat harga minyak AS sempat menyentuh level negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. Namun, situasi 2026 dinilai berbeda karena pasar telah dibayangi kelangkaan pasokan akibat gangguan di sekitar Hormuz. Jika aktivitas ekonomi turun karena ketakutan wabah, penurunan permintaan dapat sedikit meredakan tekanan harga, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Komoditas logam mulia pun mengalami gejolak sepanjang 2026. Sejak serangan AS-Israel ke Iran, harga emas turun lebih dari 12% dan perak turun lebih dari 9%. Pada guncangan COVID-19 di 2020, emas sempat ikut dilepas pada Maret sebelum pulih dan mencetak rekor tertinggi baru. Perak juga sempat jatuh pada Maret, lalu naik signifikan hingga mencapai level tertinggi tujuh tahun pada Juli 2020.
Namun, pola pemulihan seperti 2020 dinilai tidak mudah terulang. Ketika itu, pasar akhirnya bangkit dengan dukungan stimulus pemerintah. Pada 2026, ruang kebijakan disebut lebih sempit, sehingga jika wabah memburuk, reaksi awal di Bitcoin, saham, dan komoditas berpotensi lebih bergejolak.
Meski klaster hantavirus masih dikategorikan terkendali, perbandingan dengan 2020 menjadi pengingat bagi pelaku pasar. Inflasi, harga minyak, dan valuasi saham kini berada pada level lebih tinggi, sementara fleksibilitas kebijakan lebih terbatas. Dalam kondisi tersebut, guncangan kesehatan baru apa pun dinilai akan dihadapi oleh sistem yang sudah terbebani, bukan sistem yang siap menyerap gelombang stimulus baru.