Pasar keuangan Indonesia ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama melemah, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau naik. Pergerakan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global serta meningkatnya perhatian investor pada pergerakan harga minyak dan risiko geopolitik di Timur Tengah.
IHSG terkoreksi 0,37% atau turun 27,28 poin ke level 7.362,12 pada akhir perdagangan sesi kedua. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 211 saham menguat, 461 melemah, dan 149 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp13,38 triliun dengan volume 26,81 miliar saham dalam 1,61 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp13.150 triliun.
Mayoritas sektor melemah, dengan koreksi terdalam terjadi pada sektor infrastruktur, properti, dan konsumer non primer. Di sisi lain, hanya sektor teknologi dan finansial yang mencatat penguatan.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar disebut menjadi penopang pergerakan IHSG, di antaranya DCII, BBCA, BMRI, BYAN, dan SMMA. Adapun saham yang menjadi beban terbesar bagi IHSG meliputi BREN, DSSA, BRMS, VKTR, dan MORA.
Di pasar valuta asing, rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar AS. Mengacu pada data Refinitiv, rupiah turun 0,12% ke level Rp16.885 per dolar AS. Tekanan sudah terlihat sejak pembukaan, ketika rupiah dibuka melemah 0,15% ke posisi Rp16.890 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak pada rentang Rp16.870 hingga Rp16.908 per dolar AS.
Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,19% ke posisi 99,420 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan dolar dinilai membatasi ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, seiring tingginya ketidakpastian global yang mendorong pelaku pasar kembali memburu dolar AS.
Sentimen pasar juga dipengaruhi data inflasi AS Februari yang dirilis sesuai perkiraan. Namun, perhatian investor disebut lebih tertuju pada pergerakan harga minyak dan potensi dampak jangka panjang perang AS-Israel melawan Iran terhadap pertumbuhan ekonomi global. Risiko gangguan perdagangan energi dunia dinilai dapat memicu lonjakan harga, yang pada akhirnya menjaga minat terhadap dolar AS sebagai aset aman dan menekan mata uang negara berkembang.
Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasil SBN 10 tahun terindikasi berada di level 6,776%. Angka ini naik dibanding penutupan sebelumnya di level 6,69% pada Selasa (10/3/2026). Kenaikan imbal hasil mengindikasikan harga SBN sedang turun akibat aksi jual investor.
Ke depan, pasar diperkirakan masih menghadapi tekanan meski peluang rebound dinilai tetap terbuka setelah kinerja yang kurang baik pada beberapa hari terakhir. Pelaku pasar juga mencermati sejumlah faktor, mulai dari kestabilan rilis inflasi AS, daya tahan APBN dalam menghadapi eskalasi geopolitik, hingga transisi strategis di kursi kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

