Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyatakan 32 negara anggotanya sepakat melepas cadangan minyak darurat hingga 400 juta barel, menyusul gangguan pasokan akibat blokade di Selat Hormuz. Langkah ini diumumkan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Rabu (11/03), di tengah ancaman Iran yang menyatakan tidak akan mengizinkan “setetes pun minyak mentah” melintasi jalur laut tersebut.
IEA menilai situasi pasar minyak saat ini menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Skala tantangan yang sedang kita hadapi di pasar minyak benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu saya sangat senang negara-negara anggota IEA merespons dengan tindakan darurat bersama yang juga belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Birol.
Meski pengumuman pelepasan cadangan sudah disampaikan, harga minyak kembali menguat pada Kamis (12/03). Minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 9% pada perdagangan Asia hingga menembus US$100 per barel, sebelum terkoreksi ke sekitar US$97,50.
IEA menjelaskan, pelepasan cadangan darurat akan dilakukan bertahap ke pasar dengan menyesuaikan kondisi nasional masing-masing negara anggota. Total 400 juta barel tersebut setara sekitar empat hari konsumsi minyak global, atau jumlah yang dalam kondisi normal akan melewati Selat Hormuz selama sekitar 20 hari.
Ini menjadi kali keenam IEA menyetujui pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi. Sebelumnya, langkah serupa dilakukan pada 1991, 2005, 2011, serta dua kali pada 2022. Menurut data IEA, negara-negara anggotanya menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan darurat, di luar sekitar 600 juta barel cadangan yang disimpan industri minyak untuk memenuhi kewajiban hukum masing-masing pemerintah.
Beberapa jam setelah pernyataan IEA, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana melepas 172 juta barel minyak dari cadangan darurat nasional sebagai bagian dari upaya internasional terkoordinasi untuk menekan harga energi global. Pengiriman minyak dari cadangan strategis AS diperkirakan dimulai pekan depan dan berlangsung sekitar 120 hari.
Ketegangan di Selat Hormuz—jalur yang selama ini mengalirkan lebih dari 20% pasokan minyak dunia—meningkat setelah blokade berlangsung beberapa hari dan muncul laporan serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan tersebut. Dalam beberapa jam terakhir, wilayah itu dilaporkan mengalami serangan terhadap tiga kapal kargo, dengan setidaknya satu serangan diklaim oleh Teheran.
Pada Rabu (11/03), tiga kapal diserang di Selat Hormuz. Dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan, sementara kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, terbakar setelah terkena serangan di perairan dekat Oman. Otoritas maritim Thailand menyebut kapal tersebut terkena proyektil yang memicu kebakaran. Angkatan Laut Oman kemudian dikerahkan untuk operasi penyelamatan dan mengevakuasi 20 awak kapal. Seluruh awak merupakan warga Thailand, dan tiga orang dilaporkan luka-luka. Pemerintah Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Di saat bersamaan, Irak melaporkan dua kapal tanker minyak asing diserang di Pelabuhan Al Faw. Juru bicara angkatan bersenjata Irak menyebut satu awak kapal meninggal dan 38 orang berhasil diselamatkan. Irak menyatakan serangan terjadi di perairan teritorialnya dan menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Seorang sumber keamanan Irak di Basra mengatakan kepada CNN bahwa sebuah kapal Iran yang membawa bahan peledak diduga menabrak kedua kapal, meski penyelidikan masih berlangsung. Otoritas Irak juga menyatakan operasi di pelabuhan minyak dihentikan sementara setelah serangan.
Observatorium Maritim Inggris melaporkan bahwa sejak 28 Februari hingga saat ini telah terjadi 13 serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Teluk Oman. Di sisi lain, pada Juni 2019, dua kapal tanker minyak di dekat Selat Hormuz juga dilaporkan diserang. Disebutkan pula dua anggota awak—seorang warga Inggris dan seorang Rumania—tewas dalam insiden yang melibatkan kapal tanker produk minyak bumi yang dikelola Zodiac Maritime.
Harga minyak sebelumnya berada di sekitar US$60 per barel sebelum konflik di Iran pecah pada 28 Februari, level yang disebut relatif rendah karena pasokan melimpah. Konflik kemudian mendorong harga melampaui US$100 per barel, sempat turun ke kisaran US$80–US$90 dalam beberapa hari terakhir, lalu kembali terdorong naik setelah laporan serangan baru terhadap kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai kenaikan harga minyak sebagai “harga kecil” untuk menghilangkan ancaman dari program nuklir Iran. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut kenaikan harga minyak jangka pendek akan turun ketika ancaman tersebut “berhasil dihancurkan.” Trump juga mengatakan pasukannya telah “menyerang 28 kapal penebar ranjau sejauh ini,” merujuk pada kapal-kapal Iran yang diduga disiapkan untuk memasang ranjau di Selat Hormuz.
Militer AS memberi sinyal kemungkinan serangan terhadap pelabuhan di pesisir selatan Iran. United States Central Command (Centcom) memperingatkan warga sipil Iran agar menjauh dari pelabuhan di sepanjang selat tempat angkatan laut AS beroperasi, dengan tuduhan bahwa pelabuhan sipil dimanfaatkan untuk kegiatan militer yang mengancam pelayaran internasional. Centcom juga menegaskan pelabuhan sipil yang digunakan untuk kepentingan militer dapat dianggap sebagai target militer yang sah menurut hukum internasional.
Trump menyatakan kepada Axios pada Rabu (11/03) bahwa perang akan “segera” berakhir dan “hampir tidak ada lagi target yang tersisa untuk diserang.” Namun, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan konflik akan terus berlangsung tanpa batas waktu dan berjalan selama diperlukan hingga tujuan operasi militer bersama Israel dan AS yang dimulai pada 28 Februari tercapai.
Di tengah krisis, sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah mulai mencari alternatif untuk mengatasi gangguan di Selat Hormuz. Arab Saudi meningkatkan aliran minyak mentah melalui jaringan pipa East–West, yang menyalurkan minyak dari ladang di kawasan Teluk menuju terminal ekspor di Laut Merah sehingga mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Sebelum krisis, pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu mengalirkan sekitar 2,8 juta barel per hari.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser pada Selasa (10/03) mengatakan aliran minyak kini ditingkatkan mendekati kapasitas maksimum sekitar 7 juta barel per hari. Pada saat yang sama, kapal-kapal tanker dilaporkan mulai mengalihkan pengiriman ke pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab disebut sebagai dua produsen yang memiliki jaringan pipa alternatif. Uni Emirat Arab memiliki Abu Dhabi Crude Pipeline yang mampu menyalurkan sekitar 1,8 juta barel per hari menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Namun, meski beroperasi penuh, kapasitas gabungan jalur alternatif ini disebut masih kurang dari setengah jumlah minyak mentah yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Sementara itu, produsen lain di Teluk yang tidak memiliki jalur alternatif seperti Kuwait dan Irak dilaporkan mulai menurunkan produksi. Amin Nasser menggambarkan gangguan saat ini sebagai “krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan.”
Di berbagai negara, kenaikan harga bensin dilaporkan terjadi, sementara sejumlah pemerintah mulai menyiapkan kebijakan darurat jika krisis energi memburuk.

