Direktur Utama Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa ekonomi dunia menghadapi “ancaman besar” dari krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Ia menegaskan tidak ada negara yang kebal terhadap dampak krisis tersebut.
Berbicara di National Press Club of Australia di Canberra pada 23 Maret, Birol menilai krisis energi saat ini setara dengan krisis minyak pada 1970-an serta guncangan energi yang terjadi akibat konflik di Ukraina. Menurutnya, situasi sekarang menimbulkan ancaman yang sangat serius bagi perekonomian global, meski ia menyatakan harapan krisis bisa segera teratasi.
Birol juga memperingatkan bahwa jika perkembangan situasi berlanjut seperti saat ini, dampaknya akan meluas ke semua negara. Ia menekankan perlunya upaya global yang terkoordinasi untuk merespons tekanan energi yang kian membesar.
Sebelumnya, pada 22 Maret, IEA menyatakan gangguan di Selat Hormuz telah menciptakan “kemacetan energi terbesar yang pernah ada”. Sejak konflik meletus pada akhir Februari, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas global itu dilaporkan hampir sepenuhnya lumpuh, sehingga mendorong lonjakan harga energi.
Perkiraan menunjukkan pasokan minyak terganggu sekitar 11 juta barel per hari, sementara pasokan gas berkurang sekitar 140 miliar meter kubik. Penurunan itu terutama dikaitkan dengan terganggunya ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab. IEA juga mencatat setidaknya 40 fasilitas energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan signifikan, sementara harga minyak disebut telah pulih.
IEA menilai krisis saat ini belum pernah terjadi sebelumnya karena dampaknya meluas ke berbagai indikator ekonomi, termasuk inflasi, kenaikan biaya impor energi, pelebaran defisit neraca transaksi berjalan, serta perlambatan pertumbuhan di banyak negara.
Tekanan juga terasa di pasar keuangan global. Aset yang kerap dianggap sebagai safe-haven seperti emas dan Bitcoin mengalami volatilitas tinggi. Harga emas pekan lalu mencatat penurunan paling tajam dalam lebih dari satu dekade, bahkan mengarah pada penurunan terdalam sejak 1983. Dalam sesi terakhir, harga emas turun lebih dari 2,3% menjadi sekitar 4.494 dolar AS per ons, sehingga total penurunan selama sebulan terakhir mencapai lebih dari 14%.
Sejumlah faktor disebut menjadi pendorong pelemahan emas, termasuk lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan meredam harapan pelonggaran kebijakan moneter. Penguatan dolar AS juga membuat emas kurang menarik, sementara sebagian investor menjual emas untuk menambah likuiditas dan memenuhi persyaratan margin di tengah gejolak pasar saham dan obligasi.
Di pasar kripto, Bitcoin turun selama tiga sesi berturut-turut dan sempat merosot di bawah 70.000 dolar AS setelah mencapai hampir 76.000 dolar AS pada pertengahan Maret. Volatilitas harga energi dan prospek kenaikan suku bunga disebut membuat arus modal spekulatif lebih berhati-hati.
Di sisi lain, pasar juga mencermati perubahan korelasi antara emas dan Bitcoin. Jika sebelumnya Bitcoin kerap dipandang sebagai aset berisiko tinggi, pergerakan terbaru menunjukkan keduanya cenderung bergerak searah dalam jangka pendek, sehingga memunculkan persepsi adanya kemiripan dengan aset safe-haven.
Menurut analis regional yang dikutip koresponden Kantor Berita Vietnam di Timur Tengah, krisis ini bukan hanya guncangan energi, melainkan turut mengganggu sistem alokasi aset global. Di tengah ketidakpastian berkepanjangan, investor cenderung memprioritaskan uang tunai dan instrumen yang sangat likuid, sehingga bahkan aset yang dianggap sebagai tempat berlindung pun berada di bawah tekanan.
Meski demikian, sejumlah lembaga keuangan besar disebut tetap mempertahankan pandangan jangka panjang yang positif terhadap emas, dengan proyeksi harga dapat naik ke kisaran 6.000–6.300 dolar AS per ons seiring pulihnya permintaan dari bank sentral dan investor.
Konflik di Timur Tengah juga berdampak pada sektor penerbangan global akibat kenaikan tajam biaya bahan bakar. Koresponden Kantor Berita Vietnam di Afrika melaporkan harga bahan bakar jet global meningkat signifikan, memberi tekanan biaya yang semakin besar pada maskapai di Afrika.
Para ahli industri menilai Afrika sangat rentan terhadap fluktuasi pasar bahan bakar karena sekitar 70% bahan bakar jet dan minyak impor benua tersebut diangkut melalui Selat Hormuz. Bagi maskapai Afrika, bahan bakar biasanya menyumbang 30–40% dari total biaya operasional, lebih tinggi dibanding banyak wilayah lain. Pada maskapai berbiaya rendah, porsinya bahkan dapat mencapai 55%.
Perubahan harga bahan bakar yang cepat juga menyulitkan maskapai menyusun rencana penerbangan dan kebijakan tarif. Sejumlah maskapai disebut enggan memberikan harga untuk penerbangan mendatang karena khawatir menanggung kerugian jika harga bahan bakar terus melonjak.
Para pengamat menilai kondisi ini menunjukkan kerentanan kawasan terhadap guncangan geopolitik eksternal. Jika harga minyak dan gas terus meningkat, tekanan terhadap maskapai diperkirakan meluas ke biaya logistik, perdagangan, dan pariwisata, yang pada akhirnya menambah beban perekonomian yang sangat bergantung pada impor energi.

