Hubungan yang kerap disebut sebagai “aliansi spesial” antara Amerika Serikat dan Inggris dilaporkan memasuki fase tegang. Presiden AS Donald Trump disebut melontarkan komentar bernada merendahkan terhadap kapal induk andalan Inggris, HMS Queen Elizabeth, yang ia anggap tidak lebih dari “mainan” dan tidak berguna dalam pertempuran nyata.
Menurut laporan tersebut, pernyataan itu muncul di tengah kekecewaan Trump terhadap sikap London dalam isu Iran, khususnya ketika Washington menjalankan kampanye “tekanan maksimum” terhadap Teheran. Trump dikabarkan mengharapkan Inggris memberikan dukungan penuh, termasuk saat AS berupaya menekan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Namun, Inggris disebut memilih pendekatan diplomasi yang lebih lunak dengan alasan menjaga keberlanjutan kesepakatan nuklir Iran (JCPOA). Sikap itu dipandang Trump sebagai dukungan yang tidak tegas dan dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap garis kebijakan AS.
Dalam konteks itulah, Trump dilaporkan membandingkan kemampuan kapal induk Inggris dengan armada kapal induk Amerika. Seorang sumber internal menyebut Trump mencibir saat melihat HMS Queen Elizabeth dan membandingkannya dengan kapal induk kelas Gerald R. Ford milik AS.
Meski bernuansa politis, komentar tersebut juga menyinggung perbedaan teknis yang sensitif. HMS Queen Elizabeth menggunakan sistem peluncuran pesawat ski-jump, sedangkan kapal induk AS mengandalkan katapult elektromagnetik (EMALS) untuk meluncurkan pesawat yang lebih berat. Selain itu, kapal induk Inggris masih menggunakan bahan bakar konvensional, berbeda dengan kapal induk AS yang bertenaga nuklir dan dapat beroperasi lebih lama tanpa pengisian bahan bakar.
Trump menilai, tanpa teknologi nuklir dan katapult yang lebih maju, kapal induk Inggris tidak akan mampu menandingi kekuatan Iran apabila konflik pecah jauh dari wilayah Inggris. Di sisi lain, situasi ini dipandang sebagai sinyal retaknya kepercayaan antara kedua negara: Inggris merasa kedaulatannya diremehkan, sementara Trump merasa tidak mendapatkan dukungan yang ia anggap penting pada momen krusial.
Ketegangan tersebut mempertegas dinamika hubungan kedua sekutu ketika kepentingan politik dan strategi luar negeri tidak sejalan, terutama di bawah pendekatan “America First” yang kerap dikaitkan dengan Trump.

