JAKARTA — HP Indonesia meluncurkan laptop gaming terbarunya, HP HyperX OMEN 15, di Indonesia pada awal 2026. Peluncuran ini berlangsung di tengah isu kelangkaan RAM global yang disebut berpotensi memengaruhi industri teknologi.
Meski demikian, HP Indonesia menyatakan harga produk yang ditawarkan saat ini belum terdampak kondisi tersebut. Perusahaan menegaskan fokusnya adalah memenuhi kebutuhan pelanggan di Indonesia.
“Secara overall itu kan fenomena secara global. Dari sisi HP kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan dari pelanggan kita di Indonesia,” ujar President Director HP Indonesia Juliana Cen kepada awak media, Selasa, 10 Februari 2026.
Juliana menambahkan, untuk produk yang baru diluncurkan—termasuk HP HyperX OMEN 15—belum ada informasi mengenai perubahan harga. “Hari ini yang kita baru luncurkan yang spesifikasinya seperti itu, so far kita belum ada informasi untuk perubahan apa-apa,” katanya.
Namun, Juliana tidak merinci apakah harga akan tetap stabil pada periode berikutnya. Ia menyebut HP menyiapkan sejumlah strategi penjualan untuk menghadapi tantangan pasar. “Jadi kita memang ada beberapa strategi campaign yang kita akan lakukan, yang mana tujuannya lebih ke bagaimana kita bisa menjangkau customer kita dengan cepat dan juga tepat sasaran,” ujarnya.
HP juga menyatakan tetap menyasar segmen gamer, seiring besarnya potensi pasar gaming di Indonesia. Mengacu pada catatan Mureks, lebih dari 152 juta penduduk Indonesia disebut akrab dengan aktivitas bermain gim.
“Kita secara overall melihat di pasar gaming karena kan gede sekali ya. Pastinya masih banyak area yang mana baik HP, itu tetap bisa unggul gitu ya. Makanya, dengan hari ini kita luncurkan experiment kita. Kita melihat potensial untuk menguasai pasar di mana gamers tidak hanya gaming, tapi juga dia bisa pakai buat seharian dia, entah dia bekerja atau dia sekolah gitu,” papar Juliana.
Isu kenaikan harga dan kelangkaan RAM mulai mencuat pada akhir 2025. Dalam laporan tersebut, kondisi ini dikaitkan dengan lonjakan kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diadopsi di berbagai sektor, mulai dari perusahaan teknologi, startup, hingga institusi pendidikan dan pemerintahan.
Disebutkan, server AI membutuhkan kapasitas RAM lebih besar dibandingkan server konvensional untuk memproses machine learning, model bahasa besar (LLM), serta analisis data real-time. Situasi itu dinilai mendorong produsen RAM memprioritaskan pasokan untuk sektor enterprise, sehingga ketersediaan RAM untuk pasar konsumen menjadi lebih terbatas.

