BERITA TERKINI
Hidangan Manis Khas Ramadan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Dari Qatayef hingga Kunafeh

Hidangan Manis Khas Ramadan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Dari Qatayef hingga Kunafeh

Beragam hidangan manis seperti qatayef, kunafeh, dan zlabya menjadi bagian yang lekat dari tradisi berbuka puasa (iftar) di berbagai negara Arab serta dunia Muslim. Penganan ini umumnya dibuat dari adonan manis yang digoreng dalam minyak banyak, lalu disantap dengan dicocol atau disiram madu maupun sirup gula.

Teksturnya bervariasi, dari lembut hingga renyah. Isiannya pun beragam, mulai dari kurma hingga aneka kacang. Banyak toko yang menjual hidangan ini merupakan usaha keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena kerap hadir khusus pada bulan Ramadan, masyarakat pun biasanya harus menunggu setahun untuk kembali menikmatinya.

Di Ramallah, Tepi Barat, Khairy al-Siyouri dikenal sebagai pembuat qatayef—kue manis menyerupai panekuk yang dilipat dan diisi krim atau kacang. Ia menyebut telah menekuni pekerjaan ini selama sekitar 50 tahun. Menurutnya, pelanggan yang dulu membeli qatayef saat masih anak-anak kini telah tumbuh dewasa, berkeluarga, bahkan anak mereka pun ikut datang membeli qatayef di tempat yang sama.

Sementara itu di Tunisia, keluarga Abid disebut sebagai salah satu keluarga tertua pembuat hidangan manis yang populer selama Ramadan. Chokri Abid, pemilik toko hidangan manis di Tunis, mengatakan hampir tidak ada rumah di Tunisia yang tidak menyajikan sepiring zlabia, mkharek, dan makrouk.

Zlabia dikenal sebagai penganan goreng berbentuk lingkaran spiral. Adapun makrouk merupakan kue berisi kurma atau buah-buahan lain, yang dinikmati dengan cara dicelupkan ke dalam madu.

Di Dubai, kudapan khas Ramadan yang banyak dicari adalah luqaimat. Bentuknya bulat kecil dan disebut memiliki rasa seperti donat. Amina Ali, salah seorang pembuat luqaimat, mengatakan penganan tersebut membuat Ramadan “lebih manis”, dan dinikmati setelah iftar dengan madu atau sirup gula.

Zlabya juga populer di Aljazair. Di kota Boufarik, penganan ini bahkan mendorong sebagian orang menempuh perjalanan melewati beberapa kota untuk membelinya. Warga setempat menyebut resep zlabya Boufarik diturunkan dari generasi ke generasi. Faycal, seorang pembeli, mengatakan Ramadan terasa tidak lengkap tanpa zlabya, khususnya zlabya dari Boufarik yang telah ada selama beberapa generasi.

Di Lebanon, salah satu hidangan manis Ramadan yang dikenal adalah kallaj—roti goreng berisi krim yang dimakan dengan mencocolnya ke dalam sirup gula. Mohammed Issa, pembuat kue berusia 31 tahun yang telah bekerja hampir separuh hidupnya, menyebut kebiasaan membeli kue-kue Arab manis dalam jumlah banyak kini berubah. Menurutnya, orang sekarang hanya membeli satu atau dua, dan itu pun mereka yang mampu.

Ia menambahkan, banyak orang menunggu Ramadan untuk menikmati kallaj, namun kini tidak semua orang bisa membelinya. “Hanya beberapa orang saja yang mampu membeli kallaj,” ujarnya.

Seiring waktu, sejumlah kue tradisional juga mengalami perpaduan dengan bahan-bahan yang lebih kontemporer, terutama di Mesir. Buah-buahan, cokelat, karamel, biskuit, dan bahan lain digunakan sebagai isian maupun dekorasi. Mohamed Adel, seorang pelanggan, menyebut perubahan itu terlihat pada kunafeh. Menurutnya, beberapa tahun lalu kunafeh umumnya hanya berisi krim, sementara kini muncul variasi seperti karamel dan kue keju, sebagai bagian dari perpaduan yang ia sebut dipengaruhi hal-hal yang datang dari luar negeri.

Kunafeh sendiri merupakan kue keju berbahan semolina atau bihun yang direndam sirup. Bagi banyak warga di Timur Tengah dan Afrika Utara, aneka kue manis ini—baik yang disajikan secara tradisional maupun dengan sentuhan modern—tetap menjadi pelengkap yang sulit dipisahkan dari suasana Ramadan.