BERITA TERKINI
Harga Pupuk Kembali Naik Dipicu Konflik Global, Biaya Produksi Pangan Berisiko Terdorong

Harga Pupuk Kembali Naik Dipicu Konflik Global, Biaya Produksi Pangan Berisiko Terdorong

Pengamat ekonomi Sumatera Utara Gunawan Benjamin menyoroti tekanan harga pupuk yang kembali meningkat seiring dinamika konflik global. Ia menyebut, setelah sempat melonjak tajam pada awal Perang Rusia–Ukraina dan mereda pada 2023, harga pupuk kini kembali naik seiring memanasnya tensi antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurut Gunawan, kenaikan harga pupuk saat ini belum setinggi periode awal perang Rusia–Ukraina. Namun demikian, level harga pupuk dinilai tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik terbaru muncul.

Ia memberikan contoh harga pupuk NPK non-subsidi yang sempat menyentuh Rp17.000 per kilogram saat perang Rusia–Ukraina dimulai. Saat ini, kata dia, harga NPK non-subsidi berada di kisaran Rp15.600 per kilogram.

Kenaikan juga disebut terjadi pada jenis pupuk lain, seperti KCL dan urea non-subsidi. Masing-masing kini berada di kisaran Rp13.000 dan Rp11.000 per kilogram.

Gunawan menilai kenaikan harga pupuk tersebut telah memengaruhi harga keekonomian sejumlah bahan pangan masyarakat, termasuk cabai dan bawang. Ia merinci, harga keekonomian cabai merah di tingkat konsumen kini berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp36.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp27.000 hingga Rp33.000 per kilogram.

Perubahan serupa juga terjadi pada cabai rawit dan bawang merah. Untuk cabai rawit, harga keekonomian naik menjadi Rp34.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Sementara bawang merah berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp39.000 per kilogram.

Gunawan menjelaskan, perhitungan tersebut telah memasukkan margin keuntungan petani, namun belum memperhitungkan ongkos panen. Ia menegaskan perhitungan itu berbasis sampel petani di Sumatera Utara dan bersifat dinamis.

Selain pupuk, ia mengingatkan fluktuasi harga sarana produksi lain seperti herbisida, insektisida, hingga plastik mulsa masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik global. Menurutnya, kenaikan biaya produksi berpotensi mendorong harga komoditas hortikultura lainnya, mengingat volatilitas kebutuhan sarana bercocok tanam masih cukup tinggi dan sangat bergantung pada dinamika perang yang membentuk harga komoditas global.

Meski demikian, Gunawan menilai harga keekonomian tersebut dapat menjadi acuan untuk menentukan harga ideal ke depan, baik di tingkat petani maupun konsumen. Ia menekankan perlunya kebijakan mitigasi yang disusun secara hati-hati agar tidak merugikan petani, karena kerugian di tingkat produsen pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga yang lebih besar di sisi konsumen.