JAKARTA — Kenaikan harga plastik di pasar tradisional dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak semata-mata dipicu konflik global yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Pakar ekonomi menilai lonjakan tersebut juga mencerminkan persoalan struktural, terutama tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku plastik impor yang membuat harga domestik rentan terhadap gejolak global.
Pakar Ekonomi M Rizal Taufikurahman mengatakan, perang dan penutupan Selat Hormuz memang menjadi pemicu utama, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menjelaskan kenaikan harga plastik. Menurut dia, akar masalahnya berada pada struktur industri yang belum cukup tangguh menghadapi guncangan eksternal.
Rizal menyebut sekitar 50 hingga 60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih bergantung pada impor. Sebagian besar bahan baku tersebut, kata dia, berasal dari negara-negara yang kini terdampak konflik. Di sisi lain, kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara penuh.
Di tingkat global, harga nafta—bahan baku utama plastik—dilaporkan melonjak sekitar 40 hingga 45 persen dalam satu bulan terakhir. Kenaikan itu kemudian mendorong harga plastik kemasan di pasaran naik sekitar 30 hingga 50 persen, terutama di sektor makanan dan minuman.
Rizal menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa guncangan eksternal cepat berubah menjadi tekanan di dalam negeri karena struktur industri yang belum resilien. Dalam jangka pendek, hubungan antara harga minyak dan harga plastik juga dinilai sangat kuat. Ketika harga minyak naik akibat keterbatasan pasokan imbas penutupan Selat Hormuz, turunan seperti polietilena dan polipropilena ikut terkerek, dengan kenaikan global yang tercatat mencapai 35 hingga 38 persen dalam periode terbaru.
Di Indonesia, tekanan itu disebut semakin berat karena depresiasi rupiah yang sempat mendekati Rp 17.000 per dollar Amerika Serikat. Rizal menyebut situasi ini memunculkan “double shock” karena harga global naik bersamaan dengan pelemahan nilai tukar.
Rizal mengingatkan kenaikan harga plastik tidak bersifat sementara dan tidak dapat dianggap remeh. Menurut dia, gangguan rantai pasok global akibat konflik tidak hanya memengaruhi distribusi, tetapi juga produksi, termasuk terganggunya kilang minyak di kawasan Timur Tengah yang sedang berkonflik.