Harga plastik di Jakarta mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menilai lonjakan ini tidak semata dipengaruhi faktor lokal, melainkan terkait tekanan pada rantai pasok bahan baku global yang bersumber dari kawasan Timur Tengah.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta mencatat kenaikan harga plastik mulai terlihat sejak akhir Maret 2026, seiring memanasnya konflik geopolitik di Iran, dan berlanjut hingga awal April 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam siaran pers resmi pada Sabtu, 11 April 2026.
Secara umum, harga plastik di Jakarta naik di kisaran 30% hingga 40% dan terjadi pada hampir seluruh kategori plastik yang lazim digunakan pelaku usaha. Dari hasil pemantauan, harga kantong kresek naik sekitar 40% menjadi Rp17.000 per pak. Plastik kemasan makanan dan minuman berbahan PET naik sekitar 35% menjadi Rp22.000 per pak. Sementara plastik jenis PE meningkat sekitar 30% menjadi Rp21.000 per pak.
Data lapangan juga menunjukkan variasi kenaikan antarwilayah. Di Jakarta Barat, harga kantong kresek tercatat mencapai Rp19.383 per pak dari sebelumnya Rp13.342. Plastik PET naik menjadi Rp24.600 dari Rp16.875, sementara plastik PE meningkat hingga Rp36.733 dari Rp24.908.
Rata-rata harga di lima wilayah Jakarta memperlihatkan pola serupa. Kantong kresek naik dari Rp11.627 menjadi Rp17.273 per pak. Plastik PET meningkat dari Rp15.771 menjadi Rp22.159, sedangkan plastik PE naik dari Rp16.048 menjadi Rp21.993 per pak.
Dinas PPKUKM menyebut fluktuasi harga mengikuti ketersediaan barang di pasar, yang mengindikasikan adanya gangguan pasokan dan distribusi. Dalam rilisnya, dinas tersebut kembali menegaskan bahwa kenaikan harga plastik di Jakarta berada pada kisaran 30% hingga 40%.
Menurut Pemprov DKI, tekanan ini berakar pada struktur industri plastik yang masih bergantung pada bahan baku impor, terutama resin yang banyak berasal dari Timur Tengah. Kawasan tersebut merupakan pusat produksi petrokimia dunia, termasuk resin seperti polyethylene, polypropylene, PET, dan polystyrene yang diproduksi dari minyak dan gas.
Ketika konflik terjadi dan distribusi terganggu, rantai pasok global ikut terdampak. Dinas PPKUKM menyebut konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz, turut mengganggu pasokan global produk plastik.
Di dalam negeri, kapasitas produksi dinilai belum mampu sepenuhnya menutup kebutuhan. Produksi domestik baru memenuhi sekitar 40% kebutuhan bahan baku plastik, sementara sekitar 60% sisanya masih bergantung pada impor. Kondisi ini membuat harga plastik di dalam negeri sensitif terhadap dinamika global, termasuk harga energi dan stabilitas geopolitik.
Bagi pelaku usaha, khususnya UMKM sektor makanan dan minuman, kenaikan harga plastik berpotensi meningkatkan biaya operasional karena kemasan plastik merupakan kebutuhan harian yang sulit digantikan dalam waktu singkat. Pemprov DKI mengakui ruang intervensi harga terbatas, namun menyatakan akan menyiapkan langkah stabilisasi melalui penguatan pengawasan distribusi dan koordinasi dengan pelaku usaha, termasuk memperkuat pemantauan harga di tingkat pasar dan distributor untuk mencegah lonjakan yang dinilai tidak wajar.
Lonjakan harga ini menunjukkan dampak konflik geopolitik yang dapat merembet hingga kebutuhan konsumsi sehari-hari. Ketergantungan pada rantai pasok global membuat komoditas seperti plastik kemasan rentan terhadap gangguan eksternal.