BERITA TERKINI
Harga Minyak Turun Saat Pasar Mencermati Sinyal Diplomasi AS–Iran

Harga Minyak Turun Saat Pasar Mencermati Sinyal Diplomasi AS–Iran

Harga minyak global kembali melemah dan memperpanjang koreksi setelah reli tajam yang sebelumnya didorong ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Perubahan sentimen pasar terutama dipicu optimisme terhadap kemungkinan dimulainya kembali dialog antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat pelaku pasar meninjau ulang proyeksi risiko terhadap pasokan energi global.

Kontrak berjangka minyak mentah AS untuk pengiriman Mei turun 0,88% ke US$90,4 per barel. Sementara itu, minyak Brent acuan global untuk pengiriman Juni melemah 0,31% ke US$94,47 per barel. Pelemahan ini menyusul penurunan tajam pada sesi sebelumnya dan mencerminkan pergeseran ekspektasi dari skenario krisis menuju potensi de-eskalasi.

Perhatian pasar tertuju pada perkembangan terbaru terkait kemungkinan pembicaraan Washington dan Teheran. Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan putaran kedua negosiasi tengah dipertimbangkan, meski belum ada jadwal resmi. Presiden Donald Trump juga menyebut pembicaraan berpotensi berlangsung dalam waktu dekat, bahkan dalam hitungan hari.

Sebelumnya, Trump mengindikasikan proses diplomasi berjalan lambat dan kemungkinan dilakukan di Eropa. Namun, pembaruan cepat mengenai kemungkinan lokasi di Islamabad dinilai pelaku pasar sebagai sinyal adanya dinamika intens di balik layar dan keseriusan kedua pihak untuk menahan eskalasi lebih lanjut.

Di tengah situasi tersebut, pasar energi global dinilai sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama di Timur Tengah sebagai salah satu pusat produksi minyak dunia. Dalam konteks ini, prospek dialog AS–Iran berimplikasi langsung pada stabilitas pasokan, termasuk pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.

International Energy Agency menilai kelancaran arus minyak melalui Selat Hormuz menjadi variabel krusial dalam menentukan tekanan harga energi dan dampaknya terhadap ekonomi global. Gangguan di jalur ini bukan hanya menghambat distribusi, tetapi juga meningkatkan premi risiko yang tercermin dalam harga minyak.

Data terbaru menunjukkan arus minyak melalui Selat Hormuz masih jauh dari normal. Goldman Sachs mencatat volume yang melintas baru sekitar 10% dari kapasitas normal, atau sekitar 2,1 juta barel per hari berdasarkan rata-rata empat hari terakhir. Angka tersebut menggambarkan disrupsi yang masih berlangsung meski ketegangan mulai mereda.

Namun pasar mulai melihat peluang pemulihan jika jalur diplomasi menghasilkan kesepakatan konkret. Dalam skenario itu, normalisasi arus minyak dinilai dapat terjadi lebih cepat dari perkiraan dan berpotensi menekan harga lebih lanjut.

Di sisi lain, kebijakan Amerika Serikat yang menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran turut menambah kompleksitas. Langkah ini dilaporkan menyebabkan sejumlah kapal tanker membatalkan perjalanan mereka dalam 24 jam pertama penerapan, sehingga menimbulkan ketidakpastian tambahan terhadap distribusi minyak.

Meski demikian, aktivitas melalui pelabuhan non-Iran masih berlangsung dan memberikan bantalan terhadap gangguan total. Kondisi ini menunjukkan distribusi global masih memiliki fleksibilitas, meski dalam keterbatasan.

Di tengah kekhawatiran pasar atas gangguan produksi, data terbaru menunjukkan dampaknya terhadap output tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan. Goldman Sachs memperkirakan penghentian produksi di kawasan Teluk Persia berada di kisaran 8 juta barel per hari pada Maret, lebih rendah dari ekspektasi awal maupun proyeksi International Energy Agency yang mencapai 10 juta barel per hari.

Perbedaan itu dikaitkan dengan optimalisasi penggunaan cadangan penyimpanan serta pemanfaatan minyak yang disimpan di kapal tanker. Strategi tersebut memungkinkan produsen menjaga pasokan di tengah gangguan operasional sekaligus meredam lonjakan harga yang lebih ekstrem.

Dengan berbagai faktor tersebut, pasar minyak kini berada di persimpangan. Risiko geopolitik dinilai belum sepenuhnya hilang, terutama karena hasil pembicaraan AS–Iran belum pasti. Namun ekspektasi terhadap solusi diplomatik mulai membentuk narasi yang lebih konstruktif.

Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu sambil memantau perkembangan negosiasi dan kondisi di Selat Hormuz. Sinyal positif dari jalur diplomasi berpotensi mempercepat penurunan harga, sementara kegagalan pembicaraan dapat dengan cepat membalikkan arah pasar. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pergerakan harga sensitif terhadap berita dan pernyataan para pemangku kepentingan.