Sejumlah perkembangan ekonomi global pada 12 Maret 2026 didominasi oleh lonjakan harga energi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan, seiring konflik di Timur Tengah yang memicu risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Dampaknya merembet ke pasar minyak dan gas, industri penerbangan, hingga langkah kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga minyak mentah untuk kuartal IV 2026, dengan alasan risiko gangguan aliran energi melalui Selat Hormuz diperkirakan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Bank tersebut menaikkan perkiraan harga Brent menjadi US$71 per barel dan WTI menjadi US$67 per barel, di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di pasar spot, harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel dalam perdagangan Asia pada 12 Maret. Kenaikan terjadi setelah serangkaian insiden di Oman dan Irak memicu kekhawatiran atas pasokan di kawasan Timur Tengah. Dalam sesi yang sama, harga sempat mendekati US$100 menyusul kabar Irak menghentikan operasi di pelabuhan minyaknya setelah dua kapal tanker diserang di perairan pedalaman.
Merespons gejolak pasar, Menteri Energi AS Chris Wright pada 12 Maret mengumumkan rencana pelepasan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis mulai pekan depan, yang diperkirakan berlangsung sekitar 120 hari. Di Eropa, negara-negara anggota Uni Eropa juga menyatakan rencana untuk melonggarkan pembatasan cadangan minyak nasional. Secara terpisah, 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat untuk meredam gangguan pasar akibat konflik di Timur Tengah.
IEA juga memperingatkan bahwa gangguan pengiriman tanker melalui Selat Hormuz berpotensi menekan produksi minyak negara-negara Teluk pada Maret 2026. Dalam laporan pasar minyaknya, IEA menyebut bila lalu lintas pengiriman tidak segera kembali normal, sekitar 7,9 juta barel minyak mentah per hari dan total 9,9 juta barel bahan bakar cair per hari di negara-negara Teluk dapat dihentikan sementara pada bulan ini.
Dari sisi geopolitik, Iran menyatakan siap menghadapi konflik berkepanjangan yang dinilai berisiko “menghancurkan” ekonomi dunia. Pernyataan itu muncul tak lama setelah Iran melakukan operasi militer yang menargetkan dua kapal komersial serta memperingatkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ali Fadavi, penasihat senior Panglima Tertinggi IRGC, mengatakan pihaknya akan menargetkan “pusat ekonomi dan perbankan” yang terkait dengan kepentingan AS dan Israel. Ketegangan yang meningkat dilaporkan turut mendorong sejumlah perusahaan internasional mengevakuasi karyawan dari Dubai.
Efek lanjutan juga terlihat pada pasar gas. Importir gas alam cair (LNG) di Asia dilaporkan mendorong penerapan rencana darurat untuk menghadapi skenario gangguan pasokan berbulan-bulan, setelah fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia di Qatar terpaksa ditutup akibat konflik. Persaingan mendapatkan pasokan mendorong harga LNG spot di Asia ke sekitar US$18 per juta British thermal units (mmBtu), lebih dari 80% dibandingkan level sebelum konflik.
Di sektor transportasi, konflik yang meningkat di Timur Tengah memicu gangguan besar pada industri penerbangan global, terutama rute Asia–Eropa. Pembatalan puluhan ribu penerbangan menyebabkan lonjakan harga tiket, sehingga banyak penumpang menghadapi biaya perjalanan yang tinggi menjelang musim puncak Paskah.
Sementara itu, dari sisi kebijakan ekonomi AS, pemerintahan Presiden Donald Trump pada 11 Maret secara resmi memulai investigasi perdagangan baru yang menargetkan puluhan negara mitra. Langkah tersebut dipandang para pengamat sebagai upaya membangun kembali tekanan tarif, setelah Mahkamah Agung AS menolak instrumen tarif utama Trump pada bulan sebelumnya.
Dari Asia Timur, yen Jepang berfluktuasi di sekitar level terendah sejak awal tahun dan ditutup pada 12 Maret di 159 yen per dolar AS. Pelaku pasar menilai otoritas Jepang berpotensi menetapkan ambang batas baru yang lebih tinggi untuk intervensi nilai tukar. Ahli strategi mata uang National Australia Bank, Rodrigo Catril, memperkirakan ambang batas baru tersebut dapat mendekati 162 yen per dolar AS.
Rangkaian perkembangan ini menegaskan bagaimana eskalasi konflik di Timur Tengah dapat cepat memengaruhi harga energi, kebijakan cadangan minyak, biaya transportasi, serta sentimen pasar global dalam waktu singkat.

