BERITA TERKINI
Harga Minyak Melonjak di Atas US$110 per Barel, Asia Siaga Dampak Krisis Energi

Harga Minyak Melonjak di Atas US$110 per Barel, Asia Siaga Dampak Krisis Energi

Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai mengguncang pasar global. Kenaikan harga energi memicu tekanan inflasi, menimbulkan kekhawatiran krisis pasokan di Asia, serta mendorong sejumlah pemerintah melakukan intervensi untuk menahan kenaikan harga bahan bakar.

Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melesat lebih dari 25% dalam perdagangan semalam hingga menembus US$110 per barel. Pergerakan ini disebut sebagai reli tercepat sejak dekade 1980-an. Sejak konflik dimulai, harga Brent dilaporkan naik lebih dari 50%, sementara WTI melonjak lebih dari 60%.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama bila jalur strategis Selat Hormuz terdampak. Strategis Macquarie, Vikas Dwivedi, memperingatkan penutupan Selat Hormuz selama beberapa minggu dapat memicu efek domino di pasar energi global. Dalam skenario tersebut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel atau lebih tinggi.

Gejolak energi ini turut menekan pasar keuangan. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat merosot saat perdagangan dibuka: futures S&P 500 dan Nasdaq 100 turun sekitar 1,5%, sementara kontrak Dow Jones Industrial Average jatuh hingga 2%.

Konflik yang disebut bermula dari serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran kini dilaporkan berkembang menjadi perang regional. Iran disebut melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai target di Timur Tengah, termasuk bandara, pangkalan militer, serta infrastruktur di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.

Serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas sipil strategis. Pemerintah Bahrain menyatakan sebuah pabrik desalinasi rusak akibat serangan drone Iran. Di Iran, serangan udara dilaporkan menargetkan depot bahan bakar di sekitar Teheran dan Kharaj, yang membuat langit kota-kota tersebut diselimuti asap hitam selama akhir pekan.

Dampak lonjakan minyak mulai terasa pada konsumen. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin nasional naik menjadi US$3,45 per galon pada Minggu, atau sekitar 15% lebih tinggi dibandingkan sepekan sebelumnya.

Ekonom Goldman Sachs memperingatkan dampak ekonomi global dari lonjakan energi berpotensi signifikan. Jika harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel, inflasi global diperkirakan dapat naik sekitar 0,7 poin persentase, sementara pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi melambat 0,4 poin persentase.

Asia bersiap menghadapi risiko

Negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi dinilai paling rentan terhadap gejolak ini. Kekhawatiran utama adalah potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia, terutama bagi negara berkembang yang sensitif terhadap kenaikan harga energi karena dapat langsung menekan stabilitas ekonomi.

Vietnam mengambil langkah darurat dengan menghapus tarif impor bahan bakar dan memberi fleksibilitas lebih besar kepada perusahaan energi negara, PetroVietnam, untuk membeli dan menjual minyak. Pemerintah Vietnam menyatakan pasokan energi domestik masih relatif aman untuk saat ini, namun memperingatkan bila konflik berlanjut hingga April, tekanan terhadap pasar energi dalam negeri dapat meningkat.

Produksi minyak Vietnam saat ini sekitar 180.000 barel per hari, jauh di bawah konsumsi domestik. Sebagian besar produksi dialirkan ke Kilang Dung Quat yang disebut beroperasi sekitar 118% dari kapasitas normal. Kilang Nghi Son juga dilaporkan tetap beroperasi stabil untuk menjaga pasokan bahan bakar.

Meski demikian, lonjakan harga telah terasa. Harga bensin RON-95 di Vietnam naik menjadi 27.040 dong per liter dari 20.151 dong pada akhir Februari. Harga diesel bahkan dilaporkan melonjak hampir 57% dalam waktu singkat. Kondisi ini memicu kepanikan pembelian; puluhan SPBU di Hanoi disebut sempat menghentikan penjualan sementara atau mempersingkat jam operasional karena masyarakat berbondong-bondong mengisi bahan bakar.

Di Korea Selatan, pemerintah mengambil langkah lebih drastis. Presiden Lee Jae Myung menyatakan pemerintah akan menerapkan sistem batas harga bahan bakar domestik untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, guna menahan lonjakan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah. Pemerintah juga mempertimbangkan mencari sumber energi alternatif di luar jalur pasokan yang melalui Selat Hormuz.

Selain itu, program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won atau sekitar US$66,9 miliar disiapkan untuk meredam gejolak pasar keuangan dan nilai tukar. Tekanan pasar disebut sudah terlihat: indeks saham Korea Selatan anjlok sekitar 8% pada Senin hingga memicu penghentian sementara perdagangan (circuit breaker). Nilai tukar won juga sempat melemah mendekati level psikologis 1.500 per dolar AS sebelum sedikit pulih.

Perkembangan ini menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya menjadi krisis geopolitik regional. Risiko gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut dinilai berpotensi memicu guncangan ekonomi global berikutnya.