BERITA TERKINI
Harga Minyak Lampaui USD100 per Barel usai Diplomasi AS–Iran Gagal, Pasar Asia Tertekan

Harga Minyak Lampaui USD100 per Barel usai Diplomasi AS–Iran Gagal, Pasar Asia Tertekan

Harga minyak mentah melonjak tajam hingga menembus USD100 per barel pada Senin, 13 April 2026, setelah upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Kenaikan ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Di awal perdagangan Asia, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik sekitar 8% ke USD104,50 per barel. Sementara Brent, patokan global, menguat sekitar 7% ke kisaran USD102 per barel untuk kontrak Juni.

Lonjakan harga tersebut membalikkan sentimen pekan sebelumnya, ketika pasar sempat merespons positif persetujuan gencatan senjata sementara selama dua minggu. Namun optimisme itu cepat memudar seiring konflik yang masih berlanjut, termasuk serangan Israel ke wilayah Lebanon serta meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan jalur energi di Selat Hormuz.

Situasi kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan agresif berupa rencana Angkatan Laut AS untuk memblokade kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Langkah ini dinilai mengancam arus perdagangan energi global mengingat sekitar sepertiga pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz.

Trump menyatakan tujuan utama kebijakan itu adalah membuka kembali jalur pelayaran, namun tanpa memberi ruang bagi Iran untuk memanfaatkan kontrol atas selat tersebut. Militer AS menyebut blokade akan mulai diberlakukan pada Senin sore waktu GMT.

Iran merespons keras. Garda Revolusi menyatakan tetap menguasai Selat Hormuz dan memperingatkan potensi eskalasi apabila terjadi kesalahan langkah dari pihak lawan.

Ketidakpastian geopolitik ini segera tercermin di pasar keuangan Asia. Bursa saham di Tokyo, Hong Kong, dan Seoul dilaporkan turun lebih dari 1%. Tekanan juga terlihat di sejumlah bursa lain seperti Shanghai, Sydney, Singapura, Taipei, hingga Jakarta.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat signifikan. Indeks dolar naik ke level tertinggi dalam sepekan, mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global. Euro dan poundsterling melemah terhadap dolar, demikian pula mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru.

Di sisi diplomasi, negosiasi tingkat tinggi antara Washington dan Teheran disebut sebagai kontak paling intens sejak Revolusi Islam Iran 1979 dan sempat memunculkan harapan. Namun perbedaan mendasar tetap lebar. Wakil Presiden AS menyatakan Washington telah memberikan “penawaran terbaik dan terakhir”, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai AS justru mengubah tuntutan dan mengambil langkah konfrontatif melalui kebijakan blokade.

Kenaikan harga energi turut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global. Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen AS naik menjadi 3,3% pada Maret, level tertinggi sejak pertengahan tahun lalu. Kondisi ini dinilai dapat membuat bank sentral menahan penurunan suku bunga dalam waktu dekat, atau mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Menariknya, di tengah meningkatnya risiko geopolitik, harga emas justru tertekan. Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan, sehingga mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Selama konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda, termasuk ketegangan antara Israel dan kelompok Hezbollah, pasar diperkirakan tetap bergerak volatil. Dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial energi global, setiap eskalasi militer atau gangguan logistik berpotensi kembali mendorong harga minyak dan menambah ketidakpastian bagi perekonomian dunia.