TOKYO — Harga minyak global melonjak hingga menembus US$115 per barel saat pasar dibuka di Asia pada Senin (30/3), lebih dari sebulan setelah perang dimulai. Kenaikan harga energi ini turut menekan pasar saham di kawasan.
Minyak patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik 3,23% sekitar pukul 00.15 GMT dan kembali melampaui US$100 per barel, diperdagangkan di level US$102,86. Sementara itu, minyak Brent menguat 2,95% menjadi US$115,89 per barel.
Pekan lalu, harga minyak sempat mencapai puncak US$118 per barel pada 19 Maret. Pada Jumat sore, harga berada di bawah US$112 per barel—tetap jauh lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.
Di pasar saham, tekanan terlihat sejak awal perdagangan. Indeks Nikkei Jepang merosot lebih dari 5% pada Senin pagi (30/3), sedangkan indeks Kospi Korea Selatan turun lebih dari 4%. Pelemahan terjadi seiring harga minyak kembali naik dan belum terlihat tanda-tanda perang di Timur Tengah akan segera berakhir.
Perkembangan geopolitik turut menjadi perhatian pasar. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu menuduh Amerika Serikat merencanakan serangan darat meski secara terbuka mendorong kesepakatan melalui negosiasi. Pernyataan itu disampaikan setelah kapal perang AS dengan sekitar 3.500 personel militer tiba di Timur Tengah.
Komentar tersebut muncul setelah lebih dari sebulan pemboman udara terhadap Iran oleh pasukan AS dan Israel, serta ketika para pemain regional utama menggelar pembicaraan di Pakistan.
Konflik disebut meningkat menjadi perang regional setelah Iran membalas dengan serangan terhadap negara-negara Teluk dan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Situasi ini memicu gejolak pasar energi dan menambah kekhawatiran terhadap dampaknya pada perekonomian dunia.

