Harga minyak dunia melemah sekitar 2% pada Rabu (25/3/2026), seiring munculnya kabar bahwa Iran berniat meninjau proposal dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah mengganggu aliran energi global dari Teluk Persia. Penurunan ini terjadi setelah harga sempat jatuh lebih dalam pada awal sesi perdagangan.
Kontrak berjangka Brent ditutup turun US$ 2,27 atau 2,2% ke level US$ 102,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 2,03 atau 2,2% menjadi US$ 90,32 per barel. Dalam sesi yang sama, Brent sempat anjlok hingga 7% sebelum memangkas penurunan.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran masih meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk, meski respons awalnya disebut negatif. Pernyataan itu mengindikasikan Iran belum sepenuhnya menolak usulan tersebut.
Dari pihak AS, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Presiden Donald Trump akan meningkatkan tekanan terhadap Iran jika Teheran tidak mengakui bahwa mereka telah “dikalahkan secara militer”. Di ruang publik, pejabat Iran menunjukkan penolakan keras terhadap kemungkinan negosiasi dengan pemerintahan Trump. Namun, penundaan dalam penyampaian respons resmi kepada Pakistan—yang menyampaikan proposal 15 poin dari Washington—dinilai menunjukkan adanya pihak di Teheran yang masih mempertimbangkannya.
Analis dari firma penasihat energi Ritterbusch and Associates menilai pergerakan harga minyak akan tetap sangat dipengaruhi perkembangan berita perang Iran. Mereka menilai Gedung Putih berupaya menonjolkan adanya pembicaraan, sementara penolakan Iran untuk mengakui kemajuan negosiasi dapat membatasi ruang penurunan harga lebih lanjut.
Lonjakan harga ekstrem dalam beberapa pekan terakhir juga mendorong volatilitas historis kedua acuan minyak—berdasarkan pengukuran 30 hari—ke level tertinggi sejak April 2022.
Di sisi pasokan, perang disebut hampir sepenuhnya menghentikan pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz. Jalur ini biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan LNG dan minyak mentah dunia. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi tersebut sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.
Akibat gangguan itu, terjadi kehilangan sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari. Total kehilangan disebut mencapai sekitar 500 juta barel, atau setara lima hari pasokan global, sejak perang dimulai pada 28 Februari. Gedung Putih menyatakan AS memantau secara ketat upaya untuk memastikan kapal tanker minyak dapat melintasi selat tersebut.
Di tengah kondisi itu, India dilaporkan membeli kargo pertama gas petroleum cair (LPG) dari Iran dalam beberapa tahun terakhir setelah AS sementara mencabut sanksi terhadap minyak dan bahan bakar olahan Iran. Di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi meminta Kepala IEA Fatih Birol untuk melakukan pelepasan cadangan minyak tambahan secara terkoordinasi guna melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.
Di AS, data terbaru dari Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan negara itu belum mulai menarik minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategisnya pada pekan yang berakhir 20 Maret, meski sejumlah analis memperkirakan sebaliknya.
Sementara itu, faktor geopolitik lain turut memengaruhi sentimen pasar. Pelabuhan Baltik Rusia di Primorsk dan Ust-Luga, yang merupakan terminal ekspor utama, menghentikan pemuatan minyak mentah dan produk minyak setelah serangan drone besar-besaran Ukraina memicu kebakaran. Setidaknya 40% kapasitas ekspor minyak Rusia disebut terhenti akibat serangan drone Ukraina, serangan terhadap jaringan pipa utama, serta penyitaan kapal tanker.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa AS mensyaratkan jaminan keamanan untuk kesepakatan damai di Ukraina dengan syarat Kyiv menyerahkan seluruh wilayah Donbas di timur kepada Rusia.
Di Eropa, Uni Eropa mempertimbangkan untuk menghentikan penghapusan otomatis izin emisi karbon berlebih dalam sistem perdagangan emisi mereka, sebagai bagian dari upaya menghindari volatilitas harga energi di masa depan. Di AS, pemerintahan Trump menyatakan akan sementara menangguhkan regulasi anti-polusi untuk campuran bensin musiman guna menekan kenaikan harga bahan bakar sejak perang dengan Iran.
Dari Venezuela, produksi minyak—termasuk kondensat dan cairan gas—mencapai 1,1 juta barel per hari pada Maret. EIA juga melaporkan perusahaan energi menambah 6,9 juta barel minyak mentah ke dalam persediaan selama pekan yang berakhir 20 Maret, lebih tinggi daripada perkiraan analis sebesar 500.000 barel dan laporan American Petroleum Institute yang mencatat kenaikan 2,4 juta barel.

