BERITA TERKINI
Harga Minyak Dunia Tembus US$110 per Barel, Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Energi Global

Harga Minyak Dunia Tembus US$110 per Barel, Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Energi Global

Harga minyak acuan dunia melampaui US$110 per barel setelah naik lebih dari 50%, di tengah gangguan besar pada pasokan energi global akibat konflik di Iran. Pemicu utamanya adalah blokade Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis di sepanjang pantai Iran—yang sejak akhir Februari 2026 menghambat sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) menilai guncangan ini lebih parah dibanding krisis minyak 1973. Hingga kini, pasar disebut telah mengalami kekurangan sekitar 400 juta barel minyak, setara konsumsi global selama empat hari. Di sejumlah wilayah, harga minyak Timur Tengah dilaporkan mendekati US$164 per barel.

Gangguan tidak hanya terjadi pada transportasi energi. Sejumlah infrastruktur penting di Timur Tengah—termasuk ladang gas, kilang minyak, dan pelabuhan ekspor—dilaporkan mengalami kerusakan berat. Para ahli memperkirakan pemulihan fasilitas tersebut dapat memakan waktu bertahun-tahun, sehingga memberi tekanan jangka panjang pada rantai pasokan bahan bakar dan industri kimia global.

Dampak kenaikan harga energi merembet ke berbagai sektor. Di Eropa, harga bahan bakar penerbangan mencapai rekor baru sekitar US$220 per barel, yang berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat. Di Amerika Serikat, harga bensin eceran juga naik lebih dari US$1 per galon dalam waktu singkat.

Ketahanan pangan global turut terancam karena sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia yang melewati Selat Hormuz ikut terganggu. Harga pupuk berbasis nitrogen (urea) naik tajam sekitar 30% hingga 40%, sementara sejumlah pabrik pupuk di Asia terpaksa mengurangi produksi akibat kekurangan bahan baku. Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, memperingatkan produksi sereal, daging, dan susu dapat turun tajam bila kondisi ini berlanjut.

Seiring tekanan inflasi dan potensi kelangkaan bahan bakar, sejumlah negara mulai menerapkan langkah darurat. Thailand mewajibkan pegawai negeri sipil menangguhkan sementara penugasan ke luar negeri dan memprioritaskan penggunaan tangga. Bangladesh menutup universitas, sementara Sri Lanka menerapkan sistem penjatahan bahan bakar.

Negara ekonomi besar juga mengambil langkah pembatasan. China melarang ekspor bahan bakar olahan, sedangkan pemerintah Inggris mempertimbangkan penurunan batas kecepatan untuk menghemat konsumsi bensin. Analis JP Morgan, Natasha Kaneva, menilai dalam kondisi pasokan yang lumpuh, pengurangan permintaan menjadi opsi yang paling memungkinkan saat ini.

Di pasar gas, CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi mengatakan konflik diperkirakan mengganggu sekitar 12,8 juta ton LNG per tahun—sekitar 3% pasokan global—selama tiga hingga lima tahun ke depan. IEA telah mengumumkan rencana pelepasan 400 juta barel dari cadangan darurat, namun jumlah tersebut diperkirakan hanya cukup menutup dampak krisis selama sekitar 20 hari.