BERITA TERKINI
Harga Minyak Dunia Naik Sepekan, Dipicu Sanksi Baru AS terhadap Iran dan Rencana Produksi OPEC+

Harga Minyak Dunia Naik Sepekan, Dipicu Sanksi Baru AS terhadap Iran dan Rencana Produksi OPEC+

Harga minyak mentah dunia mencatat penguatan sepanjang pekan ini, didorong sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta rencana produksi terbaru dari kelompok produsen OPEC+ yang memicu ekspektasi pasokan akan lebih ketat.

Pada perdagangan Jumat (21/3/2025), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,03% ke level US$ 68,28 per barel. Sementara minyak mentah Brent naik 0,22% ke US$ 72,16 per barel.

Secara mingguan, kedua acuan harga tersebut sama-sama naik. WTI terapresiasi 1,64% dalam sepekan, sedangkan Brent meningkat 2,24%. Kenaikan ini menjadi penguatan mingguan kedua berturut-turut.

Dari sisi kebijakan AS, Departemen Keuangan AS pada Kamis (20/3/2025) mengumumkan sanksi baru terkait Iran. Untuk pertama kalinya, sanksi tersebut menargetkan kilang minyak independen di China, selain sejumlah entitas dan kapal lain yang terlibat dalam memasok minyak mentah Iran ke China.

Analis energi TP ICAP, Scott Shelton, menilai langkah itu dapat mengirimkan pesan ke pasar bahwa perusahaan-perusahaan China—sebagai pembeli terbesar minyak Iran—tidak kebal terhadap tekanan sanksi dari AS.

Sanksi terbaru ini disebut sebagai putaran keempat Washington terhadap Teheran sejak Presiden Donald Trump pada Februari menyampaikan komitmen “tekanan maksimum” dan berjanji menekan ekspor minyak Iran hingga nol.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai rezim sanksi AS yang semakin ketat berpotensi membuat sebagian pelaku pasar yang terlibat dalam pengiriman minyak mentah Iran menjadi lebih berhati-hati ke depan.

ANZ Bank memperkirakan sanksi yang lebih ketat dapat mengurangi ekspor minyak mentah Iran sebesar 1 juta barel per hari. Sementara itu, layanan pelacakan kapal Kpler memperkirakan ekspor minyak mentah Iran berada di atas 1,8 juta barel per hari pada Februari.

Dukungan terhadap harga minyak juga datang dari rencana OPEC+ bagi tujuh anggota untuk memangkas produksi lebih lanjut guna mengimbangi produksi yang melebihi tingkat yang disepakati. Rencana tersebut mencakup pemotongan bulanan antara 189.000 barel per hari hingga 435.000 barel per hari sampai Juni 2026.

Staunovo menilai rencana tersebut berpotensi membatasi kenaikan produksi OPEC+ dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, OPEC+ bulan ini mengonfirmasi delapan anggotanya akan melanjutkan peningkatan produksi bulanan sebesar 138.000 barel per hari mulai April. Langkah ini membalikkan sebagian dari total 5,85 juta barel per hari pemotongan produksi yang disepakati melalui serangkaian kebijakan sejak 2022 untuk menopang pasar.

Analis minyak StoneX, Alex Hodes, menyebut pelaku pasar masih menunggu bukti lebih lanjut bahwa Irak, Kazakhstan, dan Rusia mematuhi pemotongan yang diumumkan pada Kamis agar rencana tersebut memberikan dukungan yang lebih kuat.

Produksi minyak Kazakhstan dilaporkan mencapai rekor tertinggi pada Maret seiring perluasan ladang minyak, yang disebut turut membuat produksinya kembali melampaui kuota OPEC+, menurut dua sumber industri.