BERITA TERKINI
Harga Minyak dan Emas Anjlok, Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar Global pada 23 Maret 2026

Harga Minyak dan Emas Anjlok, Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar Global pada 23 Maret 2026

Pasar keuangan global pada 23 Maret 2026 bergerak tajam di tengah perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Harga minyak dan emas turun signifikan, sementara otoritas energi dan pemerintah di sejumlah negara menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan dan dampaknya ke ekonomi.

Di pasar minyak, harga merosot lebih dari 13% setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan sementara rencana militer yang menargetkan pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Pada pukul 18.08 (waktu Vietnam), minyak mentah Brent turun sekitar 15% atau sekitar 17 dolar AS menjadi 96 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 13,5% atau 13 dolar AS menjadi 85,28 dolar AS per barel.

Harga emas di pasar Asia juga melemah tajam. Pada pagi hari 23 Maret, emas spot turun lebih dari 3% dan hampir menghapus seluruh kenaikan sejak awal 2026, seiring konflik di Timur Tengah memasuki pekan keempat. Pada pukul 11.17 (waktu Vietnam), harga emas spot turun 3,3% menjadi 4.345,45 dolar AS per ons. Sebelumnya dalam sesi yang sama, emas sempat jatuh hingga 3,8% ke 4.320,30 dolar AS per ons, hanya kurang dari 1 dolar AS di atas harga penutupan tahun lalu. Penurunan ini menjadi hari kedelapan berturut-turut, yang disebut sebagai penurunan terpanjang dan paling tajam sejak 1983.

Di sisi kebijakan energi, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan lembaganya akan berkonsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa mengenai kemungkinan pelepasan cadangan minyak lebih lanjut “jika perlu”. Dalam pernyataannya kepada pers di Australia pada 23 Maret—pemberhentian pertama dalam tur globalnya—Birol menyebut IEA akan memantau kondisi, menganalisis serta menilai pasar, lalu berdiskusi dengan negara-negara anggota mengenai opsi pelepasan tambahan dari cadangan.

Sementara itu, media Amerika Serikat melaporkan pada 22 Maret bahwa pemerintah Iran diduga mempertimbangkan pemberlakuan biaya hingga 2 juta dolar AS terhadap beberapa kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Informasi tersebut dikutip dari pernyataan anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi di televisi pemerintah. Langkah ini dipandang sebagai eskalasi baru dalam pengendalian salah satu jalur pengiriman energi terpenting di dunia dan memicu kekhawatiran pengamat internasional karena berpotensi mengganggu arus energi serta mendorong kenaikan harga minyak dan gas global.

Dari Asia, pemerintah China mengumumkan penerapan pembatasan sementara terhadap kenaikan harga bahan bakar domestik untuk meredam dampak lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Kebijakan ini disebut sebagai yang pertama sejak 2013 di bawah mekanisme penetapan harga bahan bakar yang berlaku saat ini. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) menyatakan harga eceran maksimum bensin akan dinaikkan 1.160 yuan (sekitar 168 dolar AS) per ton dan solar 1.115 yuan per ton, berlaku mulai tengah malam 24 Maret.

Ketidakpastian geopolitik juga tercermin di pasar aset digital. Bitcoin bergerak di sekitar level terendah dalam dua pekan pada 23 Maret setelah sempat turun tajam pada jam-jam awal perdagangan di Asia. Mata uang kripto terbesar itu sempat jatuh ke 67.371 dolar AS per bitcoin—terendah sejak 9 Maret—sebelum pulih ke sekitar 68.000 dolar AS.

Di bidang kebijakan ekonomi dan perdagangan, China kembali menyatakan komitmen untuk memperluas keterbukaan ekonomi. Dalam Forum Pembangunan China 2026 di Beijing pada 22–23 Maret bertema “China di Periode Rencana Lima Tahun ke-15: Pembangunan Berkualitas Tinggi dan Peluang Baru untuk Inovasi Bersama”, Perdana Menteri Li Qiang mengatakan China akan mendorong keterbukaan pasar yang tinggi, mengimpor lebih banyak barang berkualitas, serta bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendorong perkembangan perdagangan yang optimal dan seimbang.

Dari Eropa, Uni Eropa mengumumkan akan menerapkan sementara perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Mercosur mulai 1 Mei 2026. Keputusan tersebut diambil meski pengadilan tinggi belum mengeluarkan putusan final terkait legalitas perjanjian.

Di tengah dinamika ini, CEO UBS Sergio Ermotti menilai harga energi berpotensi tetap tinggi untuk waktu yang lama karena investor masih menakar dampak luas konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global. Ia menyebut klien bank saat ini belum melakukan perubahan mendadak dalam alokasi aset, sementara penilaian menyeluruh atas dampak konflik dinilai membutuhkan waktu lebih panjang.