Harga minyak global masih bergerak di level tinggi seiring kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menekan pasar energi dan memunculkan kekhawatiran mengenai dampak ekonomi yang lebih luas.
Dikutip dari Reuters, Rabu, 1 April 2026, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran 115 dolar AS per barel pada Selasa. Laju kenaikan sempat tertahan setelah lonjakan tajam sebelumnya, ketika pelaku pasar mencermati sinyal bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin terbuka untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Meski demikian, ketegangan di lapangan dilaporkan masih tinggi, ditandai dengan serangan terhadap kapal-kapal serta penutupan Selat Hormuz.
Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga tetap berada di atas 104 dolar AS per barel. Kedua acuan harga tersebut disebut berada pada jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini langsung memicu kekhawatiran pasar. Jika distribusi energi melalui jalur tersebut terus terganggu, harga minyak berpotensi kembali melonjak dalam waktu dekat.
Dampak kenaikan harga mulai terasa hingga tingkat konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata disebut telah mencapai sekitar 4 dolar AS per galon. Kenaikan biaya energi ini turut memperbesar tekanan inflasi, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat.
Secara global, lonjakan harga minyak juga mendorong inflasi di berbagai negara, termasuk di kawasan zona euro yang kembali melampaui target bank sentral. Para analis mengingatkan, apabila gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, risiko perlambatan ekonomi hingga resesi global dapat meningkat.

