BERITA TERKINI
Harga Emas Global Tak Melonjak di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah, Analis Ungkap Penyebabnya

Harga Emas Global Tak Melonjak di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah, Analis Ungkap Penyebabnya

Harga emas global menunjukkan pergerakan yang dinilai tidak lazim karena gagal melonjak meski eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah meningkat. Kondisi ini mengejutkan sebagian pelaku pasar yang umumnya melihat emas sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian geopolitik membesar.

Kepala Divisi Riset Metals Deutsche Bank, Michael Hsueh, menilai fenomena tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan bila melihat perbedaan karakter fundamental pasar pada setiap krisis. Menurut dia, pola serupa juga pernah terjadi tahun lalu setelah serangan Israel terhadap Iran, ketika reaksi pasar tidak selalu sejalan dengan tingkat ketegangan geopolitik.

“Ada perbedaan yang lebih besar antara masing-masing kasus daripada perkiraan rata-rata,” ujar Hsueh.

Pengamatan serupa disampaikan analis komoditas Commerzbank, Carsten Fritsch. Ia menilai emas kehilangan momentum sebagai aset safe haven yang biasanya menguat saat konflik pecah antara Iran dan Israel. Data pasar juga menunjukkan harga emas saat ini justru lebih rendah dibandingkan level sesaat sebelum konflik tersebut meletus secara terbuka, sebuah kondisi yang jarang terjadi ketika ketidakpastian global sedang tinggi.

“Harga emas tidak bisa memanfaatkan ketidakpastian perang Iran. Sebaliknya, harganya bahkan lebih rendah dibanding sebelum perang dimulai,” kata Fritsch.

Dari sisi teknis, penguatan Dolar AS disebut menjadi faktor utama yang menahan kenaikan emas. Dolar yang menguat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global berkurang.

Di saat yang sama, lonjakan harga minyak dunia akibat perang memicu tekanan inflasi. Situasi ini mendorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga dibandingkan instrumen investasi lain.

Sementara itu, CEO Fragold GmbH Wolfgang Wrzesniok-Roßbach menilai stabilitas harga emas saat ini merupakan fase “pendinginan” yang wajar setelah kenaikan yang dinilai tidak wajar pada awal tahun, yang menurutnya dipicu spekulasi dan tidak didorong data fundamental. Ia mencatat lonjakan harga pada kuartal sebelumnya berdampak pada sektor riil, dengan permintaan perhiasan turun ke level terendah dalam 15 tahun terakhir.

Ia juga menyebut bank sentral mulai menahan pembelian, dengan penyerapan 230 ton pada kuartal keempat. Angka tersebut menjadi permintaan terendah kedua dalam lima tahun terakhir, yang dikaitkan dengan harga yang sudah terlalu mahal.

“Kenaikan harga emas dan logam mulia lainnya pada kuartal terakhir dan pada bulan Januari yang tidak didorong data fundamental (lebih pada spekulasi), sehingga harga menjadi terlalu tinggi,” tuturnya.