JAKARTA — Harga emas dunia (XAU/USD) masih menunjukkan kinerja solid pada awal pekan, meski pergerakannya diwarnai fluktuasi jangka pendek seiring perubahan sentimen pasar global. Pada sesi Amerika Utara, Senin (9/2/2026), emas tercatat menguat dan diperdagangkan di kisaran USD5.074 per troy ons, naik sekitar 2,16%.
Penguatan tersebut dipicu laporan otoritas Tiongkok yang merekomendasikan lembaga keuangan domestik mengurangi eksposur terhadap obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Langkah itu muncul di tengah meningkatnya volatilitas pasar obligasi AS, yang kemudian mendorong aliran dana ke aset lindung nilai seperti emas.
Namun pada awal perdagangan Asia, Selasa (10/2), harga emas sempat terkoreksi ringan dan bergerak di dekat USD5.035. Tekanan ini terjadi seiring membaiknya sentimen risiko global serta aksi ambil untung setelah kenaikan tajam dalam dua hari sebelumnya.
Reli pasar saham, khususnya di AS, turut mengurangi daya tarik emas dalam jangka sangat pendek. Indeks S&P 500 dilaporkan memperpanjang penguatan dan mendekati level tertinggi sepanjang masa, sehingga sebagian investor kembali mengalihkan dana ke aset berisiko.
Meski demikian, analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai koreksi yang terjadi masih bersifat teknikal dan belum mengubah struktur tren utama. Mengacu pada kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average, ia menyebut tren bullish XAU/USD masih kuat.
“Harga emas masih bergerak di atas rata-rata pergerakan utama, mencerminkan dominasi buyer yang belum terganggu secara signifikan. Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, peluang kelanjutan tren naik tetap terbuka,” ujar Andy dalam analisis hariannya, Selasa (10/2/2026).
Dalam proyeksi pergerakan harian, Andy menyampaikan bahwa bila tekanan bullish berlanjut, XAU/USD berpeluang melanjutkan penguatan menuju area USD5.232. Namun ia mengingatkan volatilitas masih tinggi. Jika momentum gagal dipertahankan dan koreksi membesar, potensi penurunan terdekat disebut berada di sekitar USD4.841 yang dinilai sebagai area support penting.
Dari sisi fundamental, ruang penurunan harga emas dinilai relatif terbatas. Data terbaru menunjukkan Bank Rakyat China (PBOC) kembali menambah cadangan emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari. Cadangan emas Tiongkok naik menjadi 74,19 juta ons troy murni, yang menegaskan permintaan struktural dari bank sentral sebagai salah satu penopang harga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi penting AS, terutama laporan ketenagakerjaan Januari dan inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI). Ekspektasi pasar mengarah pada penambahan sekitar 70 ribu lapangan kerja dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,4%.
Data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS, yang tercermin dari Indeks Dolar yang turun ke 96,94. Kondisi tersebut dapat menjadi dorongan tambahan bagi emas, meski imbal hasil obligasi AS yang relatif stabil di sekitar 4,208% masih disebut berpotensi menahan kenaikan yang lebih agresif.
Secara keseluruhan, Andy menilai prospek harga emas masih cenderung positif, ditopang tren teknikal yang bullish, permintaan bank sentral yang kuat, serta peluang pelemahan dolar AS. “Selama volatilitas pasar global dan ketidakpastian kebijakan moneter belum sepenuhnya mereda, emas diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatannya dalam waktu dekat,” tutupnya.

