Harga emas berupaya mempertahankan pemulihan dan kembali bergerak di atas US$4.750 pada perdagangan Selasa pagi. Kenaikan ini terjadi di tengah harapan berlanjutnya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski pasar masih mencermati risiko terkait Selat Hormuz yang dinilai dapat membatasi penguatan logam mulia.
Di sesi Asia, sentimen risiko yang cenderung membaik menekan daya tarik aset safe-haven, termasuk emas, sekaligus melemahkan Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat berkonsolidasi dekat level terendah enam minggu di 98,32.
Optimisme pasar menguat setelah pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance yang bernada rekonsiliasi. Trump menyatakan Iran telah melakukan kontak dan ingin membuat kesepakatan, di tengah blokade yang diberlakukan atas Selat Hormuz. Ia menambahkan blokade mulai berlaku pada pukul 10:00 waktu setempat (ET) pada Senin, kemudian pihak Iran menghubungi AS.
Sementara itu, Vance mengatakan AS telah membuat banyak kemajuan dalam perundingan akhir pekan dengan Iran di Pakistan, seraya menekankan bahwa “bola ada di Iran.” CNN News juga melaporkan, mengutip sumber, bahwa pejabat pemerintahan Trump sedang melakukan diskusi internal mengenai rincian kemungkinan pertemuan kedua dengan Iran sebelum gencatan senjata AS-Iran berakhir pekan depan.
Selain faktor geopolitik, Dolar AS turut tertekan oleh ketidakpastian terkait arah suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tengah krisis Timur Tengah. Pelaku pasar disebut mengabaikan rilis terbaru inflasi konsumen AS karena perkembangan geopolitik lebih dominan dalam membentuk sentimen dan pergerakan harga emas. Dalam konteks ini, rilis Indeks Harga Produsen (IHP) AS yang dijadwalkan pada Selasa juga diperkirakan tidak menjadi fokus utama.
Meski demikian, ruang kenaikan emas dinilai masih terbatas karena pembeli belum sepenuhnya yakin. Risiko yang tersisa dari langkah Trump terkait Selat Hormuz serta potensi dampaknya terhadap harga minyak menjadi faktor yang terus dipantau pasar.
Dari sisi teknikal, pergerakan harian XAU/USD digambarkan masih “rumit” karena pembeli dan penjual belum mampu menguasai arah pasar. Pada grafik harian, harga bergerak di sekitar garis tren support menanjak yang kini menjadi area penting setelah pullback dari rekor tertinggi. Harga masih bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 21 hari dan 100 hari di sekitar US$4.664,58 dan US$4.694,48, yang mengindikasikan permintaan jangka menengah masih ada. Namun, harga tetap berada di bawah SMA 50 hari di US$4.902,29 yang menjadi pembatas penguatan.
Relative Strength Index (RSI) berada di 50,95, dekat area netral, yang mencerminkan momentum relatif seimbang. Di sisi atas, resistance awal berada di SMA 50 hari (US$4.902,29); penembusan yang berkelanjutan di atas level ini dapat membuka peluang pemulihan yang lebih luas. Sementara di sisi bawah, support langsung berada di sekitar area pivot dekat US$4.772,80, dengan penopang berikutnya di SMA 100 hari (US$4.694,48) dan SMA 21 hari (US$4.664,58). Adapun SMA 200 hari di US$4.193,01 dipandang sebagai dasar struktural yang lebih dalam jika koreksi berlangsung lebih panjang.