Harga emas Antam mencatat lonjakan tajam sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pada akhir Januari 2026, harga emas sempat menembus Rp 3,1 juta per gram, dengan kenaikan tahunan diperkirakan mencapai 50–60 persen. Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan harga emas mulai mengalami penurunan.
Pakar ekonomi Universitas Kristen Petra Surabaya, Nanik Linawati, menilai pergerakan harga emas perlu dilihat dalam dua horizon, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, ia menyebut koreksi harga sebagai hal yang wajar.
Menurut Nanik, sebagian investor melakukan profit taking seiring inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang membaik. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangannya pada Kamis (5/2/2026).
Namun, untuk jangka panjang, Nanik memperkirakan tren kenaikan harga emas masih berlanjut. Sejumlah faktor disebut menjadi pendorong, mulai dari ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga persoalan demografi dunia.
Ia menilai lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang disebutnya sedang berada dalam fase “tidak normal”. Eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi, serta dinamika politik global—termasuk retorika politik Amerika Serikat—dinilai turut membentuk iklim investasi yang penuh ketidakpastian.
Dalam situasi seperti itu, emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai atau safe haven yang banyak dicari. Nanik menilai emas bersifat langka dan tidak mudah dipengaruhi kebijakan otoritas mana pun. Ia membandingkannya dengan saham atau kripto yang suplai dan nilainya dapat terpengaruh kebijakan maupun sentimen.
Nanik menjelaskan, penambahan emas fisik memerlukan waktu panjang melalui proses eksplorasi dan penambangan. Menurutnya, kelangkaan alami tersebut membuat emas menjadi tempat berlindung yang relatif aman ketika instrumen investasi lain dianggap kehilangan arah.
Di sisi lain, Nanik mengingatkan bahwa lonjakan harga emas yang tajam justru dapat menjadi indikator serius bagi kondisi ekonomi global. Ia menilai kenaikan ini bukan lagi terutama didorong permintaan perhiasan, melainkan krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif seperti saham, kripto, dan deposito demi menjaga nilai kekayaan.
“Lonjakan yang tidak wajar ini adalah sinyal merah. Dunia sedang bergerak ke ambang resesi,” kata Nanik. Selama ketegangan geopolitik dan pergeseran aliansi global terus berlangsung, ia menilai harga emas masih akan terus mencari level tertinggi baru sebagai sandaran modal.

