Harga Bitcoin mengalami gejolak tajam dalam beberapa hari terakhir, bergerak naik turun di tengah ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pergerakan terbaru, Bitcoin sempat merosot hingga 3,7% ke kisaran 70.000 dolar AS setelah sebelumnya melonjak sekitar 9% pada Kamis (5/3). Fluktuasi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap dampak ketegangan geopolitik terhadap kondisi ekonomi dunia.
Meski sempat mengalami pemulihan, harga BTC kemudian cenderung stagnan karena investor dinilai masih enggan mengambil risiko besar. Konflik Iran-AS-Israel disebut menjadi pemicu utama ketidakstabilan, seiring serangan militer yang memicu aksi jual di berbagai aset.
Di tengah situasi tersebut, sebagian investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan emas. Sementara itu, Bitcoin ikut tertekan karena masih dipandang sebagai aset berisiko tinggi.
Analis Michael Brown dari Pepperstone Ltd menilai berita geopolitik menjadi katalis yang mendorong pergerakan pasar secara agresif, meski ia melihat sentimen kripto mulai bergeser lebih bullish pada pekan ini. Sejalan dengan itu, co-founder Orbit Markets, Caroline Mauron, menyatakan optimisme bahwa sentimen pasar kripto global kembali mengarah positif.

