BERITA TERKINI
Harga BBM Global Melonjak Imbas Konflik Iran-AS-Israel, Indonesia Klaim Belum Ada Rencana Kenaikan

Harga BBM Global Melonjak Imbas Konflik Iran-AS-Israel, Indonesia Klaim Belum Ada Rencana Kenaikan

Harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara dilaporkan melonjak setelah pecahnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Gangguan jalur perdagangan internasional serta ketidakpastian pasokan energi mendorong kenaikan harga secara cepat di pasar global dan memaksa sejumlah negara menyesuaikan harga BBM domestik.

Pakar energi Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, menilai lonjakan harga minyak global berpotensi mengganggu ketahanan energi, terutama bila pasokan terganggu. Ia menekankan bahwa pergerakan harga minyak sudah melampaui asumsi yang digunakan dalam APBN, sehingga menjadi sinyal risiko yang perlu diwaspadai. “Kalau kita lihat pergerakan harga minyak saja sudah melewati asumsi yang digunakan dalam APBN, itu menunjukkan risiko ganggu pasokan sudah berada di depan mata,” kata Rachmawan, dikutip dari laman resmi UGM.

Menurut laporan tersebut, kenaikan harga dipicu terganggunya distribusi minyak dunia akibat konflik geopolitik. Ketidakstabilan jalur perdagangan membuat suplai tersendat dan harga meningkat di pasar internasional.

Di Indonesia, pemerintah menyatakan belum ada rencana kenaikan harga BBM. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan stok BBM dalam kondisi aman dan meminta masyarakat tidak panik. “Kami berharap dengan pernyataan ini masyarakat dapat mendapatkan informasi yang lebih jelas, yang lebih akurat dan kami berharap masyarakat tidak perlu panik. Tidak perlu resah karena ketersediaan BBM kami jamin. Kita jamin. Dan harga tidak terjadi penyesuaian,” ujar Prasetyo.

Sementara itu, sejumlah negara telah mencatat kenaikan signifikan. Data Global Petrol Prices menunjukkan sekitar 85 negara melaporkan kenaikan harga BBM sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, dan tren ini diperkirakan berlanjut hingga April.

Di Asia Tenggara, kenaikan tertinggi terjadi di Kamboja, Vietnam, dan Singapura. Harga bensin di Kamboja naik hampir 68 persen, dari sekitar Rp18 ribu menjadi Rp22 ribu per liter. Vietnam mencatat kenaikan sekitar 50 persen dari Rp12 ribu menjadi Rp19 ribu, sementara Singapura naik dari Rp36 ribu menjadi Rp42 ribuan.

Negara lain juga mencatat kenaikan harga, antara lain Nigeria (dari Rp10.033 menjadi Rp13.604), Laos (Rp22.786 menjadi Rp30.268), Kanada (Rp19.725 menjadi Rp22.106), Pakistan (Rp15.644 menjadi Rp19.555), Maladewa (Rp14.794 menjadi Rp17.685), Australia (Rp18.875 menjadi Rp22.276), serta Amerika Serikat (Rp14.794 menjadi Rp17.175).

Kenaikan harga BBM ini menegaskan dampak konflik terhadap sektor energi yang meluas, tidak hanya pada negara produsen tetapi juga negara konsumen. Lonjakan harga minyak dunia yang melampaui asumsi anggaran dinilai dapat memperbesar tekanan fiskal dan meningkatkan risiko inflasi di banyak negara.

Meski Indonesia masih menahan harga BBM tetap stabil, tantangan dinilai tetap besar apabila tren kenaikan harga minyak berlanjut. Stabilitas pasokan dan pengendalian konsumsi disebut menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak global.