Kenaikan harga bahan baku kimia dalam beberapa hari terakhir menekan pelaku usaha mebel di Kota Pasuruan. Lonjakan terjadi pada sejumlah komponen penting produksi, seperti plitur, tiner, dan bahan pelarut lainnya.
Seorang pengrajin mebel asal Pasuruan, Lukman, mengatakan kenaikan berlangsung cepat dan cukup tajam. Ia mencontohkan, harga plitur semprot yang sebelumnya sekitar Rp 100 ribu per galon kini naik menjadi Rp 150 ribu. Sementara itu, tiner kualitas A yang semula Rp 10 ribu per liter naik menjadi Rp 14 ribu.
Menurut Lukman, jika dihitung, kenaikan harga bahan baku dapat mencapai sekitar 40 persen. Namun, ia menyebut pelaku usaha hanya berani menaikkan harga jual ke konsumen sekitar 10 persen. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan semakin tergerus.
Ia mengaku harus mengambil langkah lebih hati-hati, termasuk menunda produksi atau menahan pesanan apabila harga belum disepakati dengan konsumen. Lukman menilai memaksakan produksi dalam situasi seperti ini berisiko menimbulkan kerugian.
Sementara itu, pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pasuruan menunjukkan kenaikan harga juga terjadi di tingkat distributor dan toko bahan baku. Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono, menyebut lonjakan harga bervariasi, mulai 20 persen hingga mencapai 80 persen untuk beberapa jenis bahan.
Di sejumlah toko, harga tiner dalam kemasan drum dilaporkan naik dari sekitar Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,45 juta. Adapun spirtus mengalami kenaikan lebih tinggi, dari Rp 2 juta menjadi Rp 3,5 juta per drum atau sekitar 75 persen. Mulyono mengatakan kenaikan mulai terjadi sejak awal April, sementara sebagian bahan lain naik bertahap setelah Lebaran.
Selain tiner dan spirtus, bahan lain seperti cat, lem, dan bahan finishing juga dilaporkan naik di kisaran 20 hingga 80 persen. Namun, untuk beberapa komponen seperti busa dan kain, harga relatif masih stabil, meski produk baru seperti spon disebut mengalami kenaikan sekitar 20 persen.
Mulyono menjelaskan, kenaikan dipicu faktor pasokan dari luar daerah serta dinamika global. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat harga mudah terdampak fluktuasi, termasuk pergerakan harga minyak dunia dan kondisi geopolitik. Ia menyebut, ketika pemasok menaikkan harga atau pasokan terbatas, dampaknya cepat terasa di pasar lokal.