Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan pentingnya konsolidasi institusi dan penguatan kemandirian bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di tengah dinamika persaingan global yang kian kompleks.
Hal itu disampaikan Haedar saat memberikan ceramah dalam Pengajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis malam (12/3), bertempat di Ruang Seminar Utama Gedung Induk Siti Walidah UMS lantai 7. Dalam kesempatan tersebut, Haedar menyampaikan apresiasi atas capaian UMS yang dinilainya terus berkembang dari fase ke fase dan menjadi kebanggaan bagi persyarikatan.
Menurut Haedar, capaian yang telah diraih perlu dijaga, dirawat, dan dikembangkan melalui pengelolaan institusi yang kuat serta berkelanjutan. Ia menilai pengelolaan universitas besar memiliki tantangan yang tidak ringan, baik dari sisi internal maupun eksternal.
“Mengelola Universitas besar tentu tidak mudah. Tuntutannya banyak, problem internal yang harus dikelola tentu tidak sedikit, sementara persaingan di eksternal juga semakin tinggi. Karena itu kita memerlukan konsolidasi institusi yang dilakukan secara rutin dan terus menerus,” ujar Haedar.
Selain konsolidasi institusi, Haedar juga menyoroti perlunya konsolidasi finansial. Ia menilai ketidakpastian ekonomi global menuntut PTMA memiliki tata kelola keuangan yang bijak dan berimbang agar mampu menjawab persoalan-persoalan di masa depan.
Ia mengaitkan prinsip pengelolaan tersebut dengan ajaran untuk tidak bersikap boros maupun kikir, yang menurutnya dapat diterapkan dalam mengelola organisasi dan amal usaha.
Haedar juga menyinggung dinamika pengelolaan perguruan tinggi yang menurutnya tidak sederhana, termasuk tantangan yang dihadapi perguruan tinggi negeri (PTN). Ia menilai, seiring perkembangan zaman, PTN tidak lagi semata mengandalkan APBN, tetapi juga menekankan etos kemandirian dalam kerja-kerjanya.
“PTN-BH itu ibaratkan gabungan sosialisme dan kapitalisme. Sementara kita murni mengembangkan institusi dengan kekuatan kita sendiri,” ucapnya.
Meski demikian, Haedar menyatakan optimisme bahwa PTMA akan terus berkembang. Ia menilai Muhammadiyah sejak awal memiliki etos perjuangan yang kuat (badlul juhdi), berupa kesungguhan, keikhlasan, dan pengabdian dalam memajukan persyarikatan serta amal usaha.
Dalam konteks itu, Haedar mengingatkan pentingnya menyertakan doa dalam setiap ikhtiar. Menurutnya, perjuangan perlu disertai doa yang menyatu dalam langkah kehidupan.
“Sejak kita berniat berjuang, di situlah doa harus sudah masuk. Jawaban atas doa itu menjadi misteri Allah. Kadang kegagalan yang dirasakan justru menjadi jalan menuju keberhasilan yang lebih besar,” pesannya.
Haedar berharap pengembangan PTMA ke depan semakin modern, profesional, dan maju sebagaimana amanat muktamar Muhammadiyah. Ia mendorong PTMA memiliki etos kerja yang melampaui standar kerja swasta pada umumnya.
“PTMA perlu melampaui etos kerja swasta yang biasa-biasa saja. Kita perlu menuju kepada etos super swasta atau beyond, yaitu semangat kerja yang berani, kreatif, inovatif, dan mandiri,” tuturnya.
Ia menegaskan, etos kerja tersebut akan berdampak pada kualitas PTMA dan mahasiswa. Haedar menyebut tujuan utama Muhammadiyah menghadirkan mahasiswa di PTMA adalah mendidik generasi bangsa yang tercerahkan, baik secara spiritual, cara berpikir, maupun perjalanan hidup di masa depan.
Ia juga menekankan perlunya perubahan pola pikir serta penguatan sistem jaringan, karena amal usaha Muhammadiyah dinilai terkait erat dengan ekosistem di sekitarnya.
Di akhir ceramah, Haedar menyampaikan keyakinannya bahwa Muhammadiyah ke depan akan semakin kuat. Ia menegaskan kemandirian perlu terus dihadirkan, namun tidak dengan mengisolasi diri atau bersikap anti terhadap sistem yang berkembang di luar.
“Saya yakin ke depan Muhammadiyah akan semakin dahsyat. Kekuatan kemandirian itu hadir tanpa harus mengisolasi diri atau bersikap antik terhadap sistem yang berkembang di luar,” pungkasnya.
Pengajian Ramadan 1447 H di UMS tersebut turut dihadiri sejumlah jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di antaranya Saad Ibrahim, Agus Taufiqurrahman, Dahlan Rais, dan Syafiq Mughni. Hadir pula jajaran PWM, PWA, Rektor UMS beserta pimpinan universitas. Agenda ini disebut menjadi momentum refleksi bagi pengembangan amal usaha Muhammadiyah, dengan penekanan pada sinergi, etos kerja unggul, serta pengoptimalan potensi jaringan untuk menghadirkan perguruan tinggi yang maju, profesional, dan berkontribusi bagi umat dan bangsa.

