Hammersonic Festival 2026 melakukan penyesuaian susunan penampil (line-up) setelah sejumlah musisi internasional membatalkan kehadiran. Perubahan ini disebut dipicu situasi geopolitik global yang berdampak pada penerbangan, sehingga berada di luar kendali penyelenggara.
CEO Ravel Entertainment, Ravel Junardy, mengatakan pihak promotor telah berupaya mempertahankan susunan penampil awal, namun pembatalan dari beberapa nama membuat perubahan tak terhindarkan. “Karena adanya pembatalan dari beberapa line-up yang sebelumnya dijadwalkan tampil. Hammersonic Festival 2026 mengalami penyesuaian line-up terbaru,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima, Selasa, 13 April 2026.
Untuk menjaga kualitas festival, promotor menghadirkan sejumlah nama baru, di antaranya Dashboard Confessional, ELLEGARDEN, dan Malevolence.
Selain perubahan line-up, penyelenggara juga menyesuaikan harga tiket. Tiket 2-Day Pass yang sebelumnya Rp1.099.000 kini menjadi Rp550.000 di luar pajak, atau setara Rp275.000 per hari.
Ravel menyampaikan permohonan maaf atas perubahan tersebut. Ia mengakui keputusan ini tidak diharapkan, mengingat tingginya antusiasme penonton terhadap festival musik keras yang disebut sebagai yang terbesar di Indonesia. “Ini bukan informasi yang ingin saya sampaikan. Saya memahami banyak yang sudah menunggu dan merencanakan kehadiran di festival ini,” katanya.
Meski menghadapi tantangan eksternal, pihak penyelenggara menegaskan komitmen untuk tetap menghadirkan pengalaman terbaik bagi penggemar. Hammersonic Festival 2026 diharapkan tetap menjadi ajang yang berkesan meski terjadi penyesuaian.
Sementara itu, kritikus musik ekstrem Ghulam Tufail menilai pembatalan sejumlah line-up bukan kesalahan promotor, melainkan dampak gangguan penerbangan akibat konflik geopolitik global yang memengaruhi mobilitas artis internasional. Menurutnya, gangguan rute penerbangan dari kawasan Barat menuju Asia memicu pembatalan sejumlah band, termasuk The Haunted, The Story So Far, dan New Found Glory.
“Ruang udara di beberapa wilayah terdampak konflik menjadi berisiko, sehingga lalu lintas penerbangan internasional ikut terganggu,” ucapnya. Ia menambahkan, kawasan strategis, termasuk jalur energi global di wilayah Timur Tengah, turut memperbesar potensi gangguan distribusi penerbangan.