BERITA TERKINI
Gencatan Senjata Dua Pekan Iran–AS pada Hari ke-41 Disambut Sejumlah Negara, Indonesia Dorong Diplomasi dan Perdamaian Permanen

Gencatan Senjata Dua Pekan Iran–AS pada Hari ke-41 Disambut Sejumlah Negara, Indonesia Dorong Diplomasi dan Perdamaian Permanen

Memasuki hari ke-41 sejak pecah pada 28 Februari 2026, kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat mendapat respons luas dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyambut baik kesepakatan tersebut. Indonesia menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Indonesia juga menyerukan investigasi atas insiden yang menewaskan personel perdamaian Indonesia di Lebanon, sekaligus menegaskan komitmennya terhadap stabilitas kawasan.

Dari Eropa, Pemerintah Jerman melalui Kanselir Friedrich Merz menyambut gencatan senjata tersebut dan mengapresiasi peran Pakistan sebagai mediator dalam proses perdamaian. Jerman menegaskan bahwa langkah berikutnya perlu difokuskan pada negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen.

Di Timur Tengah, Oman menyatakan dukungan terhadap kesepakatan itu dan menekankan pentingnya solusi jangka panjang agar konflik dapat diakhiri secara menyeluruh. Irak dan Mesir juga mendukung gencatan senjata, namun mengingatkan perlunya komitmen penuh dari kedua pihak untuk mencegah eskalasi baru dan menjaga stabilitas regional.

Dari Asia Timur, Jepang menilai gencatan senjata sebagai langkah positif menuju de-eskalasi. Sementara itu, Malaysia dan Australia memandang kesepakatan ini sebagai momentum penting untuk memulihkan stabilitas kawasan dan ekonomi global. Australia secara khusus menyoroti dampak perang terhadap krisis energi dunia, terutama akibat gangguan di Selat Hormuz.

Ukraina turut menyambut gencatan senjata tersebut. Namun, Kyiv juga mendorong Amerika Serikat untuk menunjukkan langkah serupa dalam menghentikan konflik dengan Rusia. “Ketegasan Amerika bekerja. Sudah waktunya digunakan untuk menghentikan perang di Ukraina,” ujar Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha.