Persiapan pembicaraan di Islamabad dilaporkan berlangsung intensif. Pemerintah setempat menetapkan hari libur nasional selama dua hari dengan menutup sekolah dan perkantoran untuk mendukung kelancaran agenda tersebut.
Pengamanan juga diperketat menjelang pertemuan. Sejumlah jalan di kawasan Red Zone—wilayah yang menjadi lokasi berbagai gedung pemerintahan dan kedutaan besar—ditutup sebagai bagian dari langkah keamanan tingkat tinggi.
Di tengah persiapan itu, gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Pakistan kerap disebut “rapuh” dan kini dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda retak, terutama terkait serangan Israel di Lebanon.
Dalam pernyataan sebelumnya, Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengatakan semua pihak, termasuk sekutu masing-masing, telah menyepakati “gencatan senjata segera di semua wilayah termasuk Lebanon”. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Israel dan Gedung Putih, yang menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.
Situasi di Lebanon menjadi perhatian serius bagi Pakistan. Menteri luar negeri dan perdana menteri Pakistan telah menyerukan penahanan diri agar jalur diplomasi memiliki ruang untuk bekerja.
Meski terdapat perbedaan tajam antara posisi publik Amerika Serikat dan Iran, Pakistan berharap pertemuan langsung di Islamabad dapat membuka peluang kompromi dan menemukan titik temu bagi kedua pihak.