Gedung Putih pada 25 Maret mengumumkan bahwa kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China dijadwalkan ulang ke pertengahan Mei 2026, setelah sebelumnya ditunda akibat konflik di Iran. Menurut AP, pertemuan puncak antara Trump dan Presiden China Xi Jinping akan berlangsung di Beijing pada 14–15 Mei.
Sebelumnya, Trump dijadwalkan mengunjungi China pada akhir bulan ini. Namun, ia memutuskan menunda perjalanan tersebut dan tetap berada di Washington. Jadwal baru kunjungan diumumkan meski pertempuran di Iran masih berlanjut dan AS menekan Teheran agar menerima proposal gencatan senjata.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Presiden dan Ibu Negara Melania Trump juga berencana mengundang Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, untuk melakukan kunjungan resmi ke Gedung Putih pada akhir tahun ini.
Ketika ditanya apakah penjadwalan ulang tersebut berarti Trump menilai konflik Iran akan segera berakhir, Leavitt menyampaikan optimisme bahwa konflik dapat selesai sebelum keberangkatan Presiden ke China. “Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat hingga enam minggu. Jadi Anda bisa menghitungnya sendiri,” kata Leavitt.
Kunjungan ke China disebut telah direncanakan selama berbulan-bulan. Namun rencana itu mulai menghadapi kendala ketika Trump menyerukan kepada Beijing dan kekuatan dunia lainnya untuk menggunakan kekuatan militer guna melindungi Selat Hormuz, jalur perairan penting bagi arus minyak global.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Michel Martin pekan lalu, Trump juga menyatakan rencananya untuk pergi ke China dalam lima atau enam minggu, bukan pada akhir bulan ini, seraya mengatakan akan “menjadwalkan ulang” pertemuan dengan Xi.

