Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tidak akan berpengaruh terhadap volume ekspor kelapa sawit Indonesia. Namun, situasi tersebut dinilai dapat berdampak pada penurunan harga komoditas sawit.
Wakil Ketua Umum III Gapki Togar Sitanggang mengatakan, hingga saat ini belum terlihat dampak besar perang dagang terhadap ekspor sawit. Meski demikian, tekanan pada harga sudah mulai tampak, seiring turunnya harga kedelai.
Selain perang dagang, Togar menyebut fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga tidak diperkirakan menurunkan ekspor kelapa sawit. Menurut dia, pergerakan kurs tidak berpengaruh signifikan karena bahan baku dibeli menggunakan rupiah yang berkorelasi dengan dolar AS.
Adapun penurunan ekspor sawit lebih disebabkan oleh dampak penerapan pajak impor oleh India. Togar menyebut pengapalan ke negara tersebut mengalami pengurangan akibat kebijakan pajak impor yang diberlakukan.

