Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad menilai pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Iran bukanlah wujud perdamaian, melainkan cerminan posisi tawar Amerika yang melemah dan “dibungkus” dalam bahasa diplomatik.
Dalam tulisannya, Fulad menceritakan ia membaca pengumuman Trump saat berada di teras rumah kebun di Ciletuh. Trump disebut menyampaikan bahwa gencatan senjata sementara telah disepakati untuk membuka ruang diplomasi dan demi perdamaian.
Fulad menyatakan menghormati proses diplomasi, namun ia menyampaikan catatan berdasarkan sudut pandangnya sebagai mantan penasihat militer Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, gencatan senjata tersebut tidak dapat serta-merta disebut sebagai perdamaian.
Ia menuliskan bahwa perang bermula pada 28 Februari, yang ia sebut dimulai oleh Amerika dan Israel dengan target menghabisi kepemimpinan Iran. Fulad juga menyatakan pihak penyerang berhasil membunuh Ayatollah Khamenei dan beberapa jenderal kunci Iran.
Namun, setelah 40 hari perang, Fulad menilai Iran tidak runtuh. Ia menekankan bahwa Amerika justru menjadi pihak yang lebih dulu mengajukan gencatan senjata. Fulad menegaskan ia tidak menyebut Amerika kalah secara militer, tetapi menilai secara posisi tawar Amerika berada di belakang.
Menurut Fulad, melemahnya posisi tawar itu dipengaruhi sejumlah tekanan, antara lain kondisi domestik di Amerika Serikat yang semakin berat, kenaikan harga minyak, adanya korban dari pihak Amerika, mulai mundurnya sekutu-sekutu Eropa, serta kegelisahan negara-negara teluk. Dalam konteks itu, ia menilai Trump memilih opsi yang paling memungkinkan, yakni gencatan senjata sementara.
Fulad juga menyoroti syarat gencatan senjata. Ia menyatakan syarat tersebut bukan datang dari Washington, melainkan dari Teheran. Ia menulis bahwa melalui mediator Pakistan, Iran mengirimkan sepuluh poin tuntutan dan pemerintahan Trump menyetujuinya.
Namun, tulisan tersebut hanya menyebut adanya “beberapa poin penting” dari sepuluh tuntutan Iran, tanpa merinci isi poin-poinnya dalam bagian yang disajikan.