BERITA TERKINI
Forum Lintas Agama di Jakarta Serukan Penghentian Kezaliman dan Perang di Tengah Konflik Global

Forum Lintas Agama di Jakarta Serukan Penghentian Kezaliman dan Perang di Tengah Konflik Global

Forum lintas agama bertajuk “Agama sebagai Pembawa Damai: Peran Tokoh Agama di tengah Ketegangan dan Konflik Global” menegaskan kembali seruan penghentian kezaliman global, termasuk perang, di tengah situasi konflik internasional yang terus memanas. Kegiatan yang digelar Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia itu berlangsung di Grha Oikoumene, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).

Sejumlah tokoh agama menekankan pentingnya mengedepankan nilai kemanusiaan dalam merespons berbagai ketegangan global. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud menyatakan perang pada dasarnya merupakan bagian dari kezaliman yang harus dihentikan.

“Dalam prinsip agama, yang harus dihentikan bukan hanya perang, melainkan juga segala bentuk kezaliman. Perang itu salah satu bentuknya,” ujar KH Marsudi Syuhud dalam agenda Ngopi Kerukunan di Aula lantai 3 Grha Oikoumene, Jalan Salemba Raya No. 10, Jakarta Pusat.

Menurutnya, nilai-nilai keagamaan secara universal mengajarkan pentingnya menjaga kemanusiaan, melindungi pihak yang lemah, serta menghindari kerusakan yang lebih luas. Karena itu, seruan “stop war” dinilai bukan semata sikap politik, melainkan panggilan moral.

Selain menyoroti penghentian perang, forum tersebut juga membahas sikap masyarakat dalam menyikapi konflik global. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Bunyan Saptomo, mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak terjebak polarisasi dengan membela pihak tertentu secara emosional.

“Tidak perlu kita ikut-ikutan membela negara tertentu, apakah itu Amerika, Iran, atau Israel. Itu justru bisa memperkeruh keadaan,” tegasnya.

Ia menekankan, perhatian utama seharusnya diarahkan pada korban konflik dan nilai keadilan, bukan keberpihakan sempit yang berpotensi memecah belah. “Yang harus kita bela adalah yang lemah, yang tertindas, korban dari konflik itu,” lanjutnya.

Para narasumber dalam forum tersebut menilai tokoh agama memiliki peran strategis dalam meredam konflik, setidaknya melalui narasi dan seruan moral. Di tengah derasnya arus informasi dan opini global, masyarakat juga dinilai perlu bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memperuncing perpecahan.

Kesepakatan dalam forum itu menegaskan bahwa upaya menjaga perdamaian tidak hanya menjadi urusan tingkat global, tetapi juga dimulai dari sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Seruan penghentian perang pun dipandang sebagai pengingat untuk tetap menjunjung nilai kemanusiaan dan tidak memperkeruh situasi melalui polarisasi.