BERITA TERKINI
Forum di Hanoi Soroti Pentingnya Diplomasi Regional di Tengah Fragmentasi Global

Forum di Hanoi Soroti Pentingnya Diplomasi Regional di Tengah Fragmentasi Global

Sebuah forum bertema “Jembatan Persahabatan: Memperkuat Diplomasi Regional di Dunia yang Terfragmentasi” digelar di Akademi Diplomatik Vietnam, Hanoi, dengan menghadirkan sejumlah tokoh diplomasi dan kebijakan dari kawasan Asia-Pasifik.

Acara ini dihadiri antara lain oleh mantan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark; mantan Menteri Luar Negeri dan Duta Besar Filipina Delia Domingo Albert; mantan Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Korea Selatan Kim Sung-hwan; mantan Penasihat Keamanan Nasional dan Menteri Luar Negeri India Shivshankar Menon; serta Direktur Akademi Diplomatik Vietnam Dr. Nguyen Hung Son. Hadir pula mantan pemimpin Kementerian Luar Negeri, mantan duta besar, perwakilan lembaga penelitian, serta dosen, peneliti, dan mahasiswa Akademi Diplomatik.

Dalam sambutan pembukaan, Dr. Nguyen Hung Son menilai tema forum mencerminkan dinamika lingkungan internasional saat ini, di mana persaingan strategis meningkat, ketidakpastian saling terkait, dan tren fragmentasi semakin nyata. Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan kebutuhan menjaga perdamaian dan stabilitas, sekaligus mendorong kerja sama berdasarkan dialog dan saling menghormati.

Ia menekankan diplomasi tetap menjadi saluran penting bagi negara-negara untuk meningkatkan pemahaman, menyelesaikan perbedaan, dan menemukan pendekatan yang tepat terhadap isu bersama. Dr. Nguyen Hung Son juga menyebut forum pertukaran seperti sesi jejaring tidak hanya memfasilitasi berbagi pengalaman, tetapi turut menghubungkan perspektif kebijakan dan mendukung diskusi regional.

Dalam sesi utama, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia sekaligus pendiri Amity Circle, Dr. Marty Natalegawa, memaparkan pandangannya mengenai peran diplomasi dalam membantu negara-negara merespons tantangan yang kian kompleks. Ia menilai bahwa di tengah beragamnya pendekatan, dialog dan negosiasi tetap menjadi metode yang tepat untuk mengelola perbedaan pendapat dan secara bertahap menemukan solusi.

“Melalui diplomasi, dialog, dan negosiasi, negara-negara dapat mengatasi masalah dengan cara yang lebih konstruktif dan bertanggung jawab,” ujar Dr. Natalegawa.

Merujuk pada Asia Tenggara, ia menilai ASEAN telah berkontribusi signifikan dalam menjaga lingkungan yang damai dan stabil serta mempromosikan kerja sama selama beberapa dekade terakhir. Karena itu, menurutnya, penguatan solidaritas internal dan promosi peran sentral ASEAN menjadi penting bagi struktur regional pada periode saat ini.

Dr. Natalegawa juga menyampaikan pandangan mengenai kebutuhan dalam pekerjaan diplomatik. Ia menekankan bahwa selain pengetahuan profesional, diplomat perlu memiliki kemampuan berdialog, fleksibilitas dalam pendekatan, serta fokus mencari titik temu. “Diplomasi bukanlah permainan menang-kalah, melainkan sebuah proses untuk menemukan titik temu dan membangun kerangka kerja yang saling menguntungkan,” katanya.

Dalam diskusi, para delegasi bertukar pandangan mengenai tren global dan regional, serta menekankan peran multilateralisme dan hukum internasional dalam menangani isu bersama. Sejumlah peserta menilai bahwa menjaga saluran dialog dan mendorong kerja sama substantif tetap menjadi pendekatan yang tepat untuk mempersempit perbedaan dan meningkatkan koordinasi antarnegara.

Sesi pertukaran juga diwarnai partisipasi aktif peneliti, dosen, dan mahasiswa, yang menghadirkan perpaduan pengalaman praktis dan perspektif akademis.

Amity Circle disebut sebagai inisiatif yang diluncurkan pada 2023 oleh mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan Yayasan Temasek, yang mempertemukan mantan pemimpin dan pakar kebijakan dari kawasan Asia-Pasifik dan Samudra Hindia untuk mempromosikan dialog dan kerja sama.

Pertukaran ini sekaligus menjadi kali pertama Jaringan dan Yayasan Temasek memilih Hanoi dan Akademi Diplomatik Vietnam sebagai tuan rumah acara tahunan mereka, termasuk kegiatan pertukaran dengan kaum muda Vietnam.