BERITA TERKINI
FISIP UB Jalankan Diplomasi Budaya dan Kerja Sama Akademik di Vietnam

FISIP UB Jalankan Diplomasi Budaya dan Kerja Sama Akademik di Vietnam

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar rangkaian kegiatan kolaboratif di Ho Chi Minh City Open University (HCMCOU), Vietnam, pada Kamis–Sabtu (23–25/4/2026). Agenda ini menjadi bagian dari strategi diplomasi kebudayaan sekaligus penguatan kerja sama akademik internasional.

Rangkaian kegiatan mencakup workshop budaya, kuliah tamu, hingga kolaborasi pengajaran. Melalui agenda tersebut, FISIP UB berupaya mempererat hubungan antarinstitusi serta memperluas jejaring akademik di tingkat global.

Pada hari pertama, Kamis (23/4/2026), FISIP UB mengadakan Workshop Topeng Malangan sebagai bagian dari misi diplomasi budaya Indonesia. Kegiatan ini diikuti sekitar 60 mahasiswa HCMCOU yang menunjukkan antusiasme tinggi, terutama pada sesi praktik melukis topeng.

Workshop dipandu oleh Ika Rizky Yustisia, S.I.Kom., M.A., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi sekaligus Staf Ahli Wakil Dekan I FISIP UB. Peserta mendapat pengenalan mengenai sejarah Topeng Malangan, nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, serta kesempatan mempraktikkan proses kreatif melukis topeng.

Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UB, Reza Safitri, S.Sos., M.Si., Ph.D., menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi diplomasi budaya yang terintegrasi dalam kerja sama akademik internasional. Ia juga berharap pengenalan budaya dapat menjadi pintu masuk penguatan kolaborasi akademik, termasuk dalam bidang pemberdayaan dan pelestarian budaya sebagai bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.

Memasuki hari kedua, Jumat (24/4/2026), FISIP UB melanjutkan agenda melalui kuliah tamu dan diskusi akademik bertajuk Penguatan Peran Strategis Kawasan Asia Tenggara. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara FISIP UB dan HCMCOU sekaligus membuka ruang dialog akademik mengenai dinamika kawasan.

Dalam sesi tersebut, Dr. Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, Ph.D., dosen Hubungan Internasional FISIP UB sekaligus Sekretaris International Relation Office (IRO), memaparkan pentingnya konektivitas Asia Tenggara sebagai fondasi kerja sama regional yang berkelanjutan. Menurutnya, penguatan hubungan antarnegara tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi, tetapi juga pada konektivitas antarmasyarakat dan pertukaran budaya.

Ia juga menyampaikan program unggulan FISIP UB, seperti Brawijaya International Student Mobility Award (BISMA) dan Brawijaya Academic Student Immersion Program (BASIS), yang disebut telah menarik partisipasi mahasiswa internasional melalui berbagai kegiatan akademik dan budaya. Program tersebut dinilai menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan Indonesia sekaligus memperkuat jejaring global mahasiswa.

Dalam pemaparannya, ia menyinggung kedekatan hubungan Indonesia dan Vietnam di berbagai sektor, termasuk budaya dan perdagangan. Konektivitas pelabuhan Surabaya dan Ho Chi Minh City serta meningkatnya popularitas budaya dan kuliner disebut menjadi indikator kuatnya hubungan bilateral kedua negara. Ia menekankan pentingnya penguatan kajian Asia Tenggara untuk memahami posisi strategis kawasan dalam mendukung ketahanan ekonomi global dan membangun diplomasi regional yang inklusif. Pada kesempatan itu, ia juga mengajak mahasiswa HCMCOU melanjutkan studi di FISIP UB serta terlibat dalam program pertukaran mahasiswa dan kolaborasi riset lintas negara.

Pada hari ketiga, Sabtu (25/4/2026), FISIP UB menggelar sesi kolaborasi pengajaran dalam kelas Bahasa dan Budaya Indonesia yang menjadi bagian dari kurikulum mahasiswa Program Studi Kajian Asia Tenggara di HCMCOU. Sesi ini dipimpin Reza Safitri, Ph.D., didampingi Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, Ph.D., Ika Rizky Yustisia, serta Novy Setia Yunas.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa HCMCOU yang telah mempelajari Bahasa Indonesia sejak semester empat mendapatkan pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Materi yang disampaikan tidak hanya menitikberatkan pada aspek bahasa, tetapi juga konteks sosial, budaya, dan praktik komunikasi yang mencerminkan identitas Indonesia dalam perspektif Asia Tenggara.

Reza Safitri menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pembelajaran internasional. Ia menyatakan bahwa pengajaran bersama ditujukan untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga membangun pemahaman lintas budaya secara langsung, dengan bahasa sebagai pintu masuk untuk memahami nilai, identitas, dan dinamika sosial suatu bangsa.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan ini disebut memperkuat hubungan kelembagaan antara FISIP UB dan HCMCOU serta membuka peluang kolaborasi lebih luas, mulai dari program mobilitas mahasiswa, riset bersama, hingga pengembangan kurikulum internasional.