Ketegangan geopolitik global kembali menjadi perhatian setelah investor Ray Dalio memperingatkan potensi perubahan besar dalam peta kekuatan dunia. Pendiri Bridgewater Associates itu menilai kendali atas Selat Hormuz bukan semata soal jalur energi, tetapi juga simbol dominasi ekonomi global.
Menanggapi pandangan tersebut, Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Firman Soebagyo menilai peringatan Dalio perlu dibaca sebagai sinyal serius karena konflik global dapat berimbas langsung pada stabilitas nasional negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia sehingga gangguan terhadapnya bisa memengaruhi distribusi minyak, kepercayaan global terhadap dolar, serta kepemimpinan ekonomi Amerika Serikat.
Firman juga menyoroti posisi Indonesia yang dinilainya menjadi lebih kompleks setelah bergabung dalam blok BoP yang disebut beririsan dengan kepentingan Amerika Serikat. Ia mengingatkan, konfigurasi tersebut berpotensi dibaca sebagai keberpihakan dan dapat memengaruhi hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah, khususnya Iran.
Selain dampak di level internasional, Firman menilai eskalasi konflik dapat merembet ke dalam negeri dalam bentuk tekanan sosial dan politik. Ia menyebut potensi munculnya demonstrasi hingga polarisasi politik antara kelompok yang pro-Amerika dan pro-Iran perlu diantisipasi pemerintah agar tidak mengganggu stabilitas nasional.
Dari sisi ekonomi, Firman memperingatkan risiko lonjakan harga minyak dunia apabila konflik membesar dan Selat Hormuz terganggu. Ia menilai kondisi itu dapat berdampak pada APBN, harga energi, dan daya beli masyarakat. Di saat yang sama, ia juga menyinggung kemungkinan tekanan eksternal, termasuk risiko sanksi atau tekanan politik dari pihak yang merasa dirugikan.
Dalam situasi global yang dinilainya semakin tidak pasti, Firman menekankan pentingnya Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara konsisten dan terukur. Ia mengatakan prinsip tersebut perlu diterjemahkan menjadi strategi diplomasi yang adaptif dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang, tanpa terjebak dalam orbit kekuatan besar mana pun.
Firman mendorong penguatan diplomasi multilateral, optimalisasi peran Indonesia di forum internasional, serta menjaga komunikasi strategis dengan semua pihak, termasuk Amerika Serikat dan Iran, tanpa menunjukkan keberpihakan berlebihan. Menurutnya, diplomasi yang lincah dan berlapis diperlukan agar Indonesia tidak kehilangan posisi tawar di tengah dinamika global yang cepat berubah.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan Indonesia memiliki modal historis dan diplomatik untuk tetap independen dalam percaturan global selama prinsip bebas aktif dijalankan secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Pernyataan Firman disampaikan kepada awak media di Gedung DPR RI, Jakarta, usai menjalankan salat Jumat, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap dinamika konflik di kawasan Teluk yang dinilai berpotensi memengaruhi arah ekonomi global.

